Pertemuan Yang Tak Terduga
Baru hari ini sejak setelah 3 bulan kepulangan Firdaus dari rantau, siang ini dirinya menampakan muncul kepermukaan dunia siang. Ibarat Drakula takut akan sinar terik matahari akan membakar seluruh tubuhnya, begitu juga dengan Firdaus berjalan cepat dengan mengenakan pakaian serba tertutup dan bertopi.
Wajah tampannya selalu di tutupi dengan map biru, mungkin saja map berisi dokumen CV biodata dan lamaran dirinya, siang itu akan bertemu dengan Pak Hasan, pemilik Yayasan Nur Islami. Tidak mau terkena sinar terik mata hari langsung makin menyoroti wajahnya, Firdaus cepat berjalan langkahkan dua kakinya di bawah rindangnya dedaunan pepohonan lebat.
Jarak antara rumah tempat tinggal Firdaus, memang tidak terlalu jauh dengan sekolah di mana dirinya akan segera mengajar, itupun bila Firdaus mau menerima tawaran mengajar. Padahal Amak Upit punya motor butut, walau tidak mewah brandnya tapi karena Firdaus tidak mau merepotkan Amaknya, lebih baik dirinya berjalan kaki saja. Walau setiap langkahnya berat sekali, karena sinar terik matahari seraya makin mengajaknya terus bercanda dengan mengejar setiap langkah jalannya.
"Lihat itu, Perjaka Magrib, Amak Upit baru keluar siang ini?" sindir ketus perempuan muda berpapasan jalan dengan Firdaus sontak terhenti langkahnya. "Pantesan siang ini terik sekali sinar mataharinya" di timpali lagi dengan satu perempuan menjebehnya sambil berjalan.
Ada rasa ingin marah Firdaus, tapi dirinya hanya diam berdiri tanpa bergeming beratap rindang rerimbuan dedaunan pepohonan. Lalu Firdaus berbalik berjalan cepat seraya tidak mau ambil pusing dengan celotehan 2 perempuan yang telah mengulik menyindir dirinya.
Di depan tidak jauh lagi dari derap langkah kaki Firdaus, sesaat dirinya berhenti berjalan merapihkan pakaiannya, siang itu kenakan jaket coklat, dalamnya kenakan kemeja biru mudah, celana panjang bahan warna crem serta sepatu fantopel hitam mengkilap saat di ledek sinar terik matahari dan topi hitamnya masih melekat menutupi kepalanya.
Papan nama Yayasan Nur Islami, terpampang jelas di hadapan sisi kanan Firdaus melangkah pasti masuk berjalan. Halaman sekolah SD Nur Islami cukup luas, di kelilingi bangunan gedung sekolah selantai, hampir semua di setiap kelas selalu ada jendela yang setengahnya tertutup dengan tirai kain berwarna hijau tua.
Langkah kepastian Firdaus makin mantap melanglahkan kedua kakinya, bila dirinya ingin kembali membagikan ilmu pendidikan pada murid SD Nur Islami. Bangunan gedung sekolah tampak masih baru, karena memang masih baru dan belum lama berdiri di fungsikan sebagai sekolah dasar. Tapi di sisi kanan masih ada bangunan berapa kelas masih terbengkali belum sepenuhnya rampung selesai.