Perjaka Magrib ~Novel~

Herman Siem
Chapter #10

Part #10

Ada Hati, Tapi?

"Ini ruangan TU, karena sebagian Guru ikut Pak Hasan metting, ya jadi gini deh ruangannya kosong. Maklum sekolah ini'kan baru, murid dan Gurunya juga ngak banyak" tutur Tidar beritahukan setiap sudut ruangan sekolah.

Tentu saja malahan bikin Tidar jengkel pada Soleha, dirinya kayak tour guide sekolah. Firdaus dan Soleha berjalan di belakang Tidar menahan jengkelnya karena sejak dari tadi dirinya cuman nunjuk-nunjuk sambil jelasin, tapi Firdaus dan Soleha seperti sedang reunian berjalan cuman tersenyum-tersenyum nyuekin dirinya padahal mulutnya udah capek.

Sebentar-bentar lirikan dua mata mereka saling mencuri dan sesaat bertatapan, berapa kali langkah jalan Soleha tersandung kaki Tidar. "Bu Soleha, kakinya punya mata'kan?" menahan kesal Tidar makin kesal karena tidak di gubris Soleha dan Firdaus ikut terhenti langkahnya saat kaki Soleha tidak sengaja menginjak tumit belakang sepatu kanan kakinya Tidar.

"Nah itu pasti, Pak Firdaus kenal? Itu Bang Topik, penjaga sekolah ini" cepat Tidar menghampiri Topik masih belum sadar, karena duduk dalam pos sambil dengarin musik dangdutan, sambil joget goyangkan kepalanya dan gerakan dua tangannya. Mungkin saja saat Firdaus tadi baru masuk, dirinya tidak melihat ada pos jaga sekolah yang ternyata menyempil di sudut bangunan kelas yang belum selesai itu.

"Loe ngapain di sini, Fir?" bingung cepat berdiri Topik keluar dari dalam pos jaganya, karena sudah berdiri Firdaus di depan pos. "Pak Topik. Ini sekolahan, ya? Jadi harus punya etika bicaranya yang sopan sedikit. Panggil Pak Firdaus" menahan rada marah Tidar seraya nasehati Topik agar sopan dengan Firdaus.

"Iiih apaan si, Dar?" "Pak Topik juga harus panggil saya juga, dengan Ibu Guru Tidar" makin bingung Topik saat mulut monyong Tidar di dekatkan pada wajahnya.

"Udeh, udeh ngak apa-apa. Santai aja ngak perlu formal" sela Firdaus tapi makin bikin bingung Topik perhatikan Firdaus melirik Soleha ikut tersenyum saat tangan kanan Topik pegang pentungan di pukul pelan pada telapak kirinya sambil mutari Firdaus.

"Loe'kan biasanya keluar cuman Magrib doang, Fir? Kenapa siang bolong gini loe udah keluar? Loe ngak takut kulit loe gosong? Loe ngak takut image loe di kampung ini akan hilang? Dengan sebuatan Perjaka Magrib?" namanya Topik kalau bertanya ngak cukup satu pertanyaan, langkahnya terhenti saat Topik berdiri berhadapan dengan Firdaus cuman nyengir doang.

Lihat selengkapnya