Berusaha Membuka Hati & Keegoisan
Langit siang hari mulai bergulir perlahan menjauh, tadinya awan putih cerah memayungi bumi Minang yang penuh Exsotic akan Keragaman Budayanya. Kini langit mulai beralih tugas dengan perlahan menutup lembaran cerita dengan sejuta kenangan kebahagian yang sebentar lagi terlupakan. Awan sendu kelabu mulai datang menujukan dirinya, bila tegasnya malam akan segara datang.
"Biasanya loe keluar gini hari, Fir menjelang Magrib?" ledek Topik masih kenakan seragam satpam sekolah, seragam kebanggannya putih biru di lengkapi dnegan sepatu hitam kusam. Dari belakang hanya lemparan senyuman malu terumbar dari raut wajah cantik Soleha, yang tidak akan pernah hilang di makan gelapnya malamnya.
"Loe dari tadi mesem-mesem aja, Soleha? Loe yakin kalau Firdaus mau buka hatinya buat loe?" bertanya rada menyindir terumbar dari bibir Tidar berjalan mengimbangi langkah jalan Soleha. Tetap saja hanya senyuman cantiknya yang menjawab pertanyaan rada menyindir Tidar tersenyum kecil saat Topik menolehnya kebelakang sambil berjalan mengiringi langkah Firdaus.
"Jadi gimana, Fir?" "Gimana apanya, Pik?" ngak jelas pertanyaan Topik, langsung di jawab Firdaus melirik kebelakang Soleha makin tersenyum malu. "Iih loe kok ngak ngerti-ngerti, Fir!" cepat tangan Topik tarik jeket coklat masih di pakai Firdaus sontak mengikuti kepinggir jalan. Sementara Soleha dan Tidar sedikit bingung perhatikannya.
"Loe jadi gimana sama, Soleha? Pastinya Soleha benar-benar ngarep bangat sama loe? Udeh, deh loe jangan mikir-mikir lagi, sekarang loe kasih tahu sama Amak Upit. Siap-siap kasih tahu Abah Sundu, suruh datang kerumah loe. Biar acara Manimang segera di laksanain aja" rada memaksa dan terus ngerocos mulut Topik sambil melirik Soleha merasa baper senyum-senyum doang.