Kejutan Yang Bikin Sesak Dada
Selepas selesai Sholat, dua tangan Amak Upit segera melepit sazadahnya. Masih lengkap memakai mukenah putih, tersisa kesedihan pada dua matanya terlihat berkaca memerah sehabis menangis sedih mengadu padaNya, dengan segudang kesedihan yang di rasakan Amak Upit. Segitu tegar pribadi Amak Upit, setelah dirinya di tinggal Abah Amran, almarhum suaminya, dirinya berusaha seorang diri untuk membesarkan Firdaus, anaknya.
Setiap harapan selalu di kutipkan dalam setiap lantuan doa pada Sang Pemilik Segala, Yaitu Allah Maha SegalaNya. Tapi rasanya memang belum waktu dan mendapatkan jawaban dariNya, di mana keinginan dan harapan Amak Upit harus tertahan berkalung kesedihan tidak tahu kapan kebahagian akan menghampirinya, yang ingin sekali dirinya pada Firdaus menerima Soleha. Semua itu hanya harapan dan penantian semu penuh kesedihan, yang harus semakin menjadikan Amak Upit semakin tegar.
Tapi Amak Upit yakin, bila Allah akan memberikan jawaban pasti dari setiap doa yang di panjatkan dalam setiap Sholatnya. "Pasti Allah akan memberikan jawaban itu. Karena tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, bagi Allah" guman berusaha tersenyumkan raut wajahnya yang tadi sedih saat dua tangannya meletakan sazadah di atas meja, sesaat sebentar mengelusnya terasa sentuhan haru penuh ketulusan menjalar sampai merasuk dalam nadinya.
"Tok, tok" hanya terdengar suara ketukan pintu tidak ada kata salam. Padahal malam semakin mengajaknya makin gelap, pastinya di luar sudah terbungkus dengan dinginnya kabut malam. Makin bingung Amak Upit lekas beranjak keluar dari dalam kamar saat masih terdengar lagi suara ketukan pintu dari luar. "Tok. tok ..." suara ketukan pintu lagi dari luar.
Sesaat langkah Amak Upit terhenti di depan kamar, tepatnya dirinya berdiri di ruangan tengah. Dua mata Amak Upit rada bingung, yang biasanya Firdaus Sholat Magrib berangkat keMasjid. Tapi malam ini dirinya melihat Firdaus Sholat Magrib di dalam kamarnya. "Ya sebentar" jawab Amak Upit cepat dua langkah kakinya mengajak untuk mendekati pintu.
"Tok, tok ..." makin bingung raut wajah Amak Upit, karena masih terdengar suara ketukan pitnu dari luar yang tidak di sertai salam. Ada rasa keraguan tangan kanannya untuk meraih handle pintu, karena tidak biasanya ada tamu hanya mengetuk pintu saja tanpa mengucapkan salam. Perlahan tangan kanannya Amak Upit rasa memaksanya untuk segera meraih handle pintu.