Allah Makin Menguji Kesabaran
"Aku'kan kangen bangat sama kamu, Fir. Emangnya kamu ngak suka kalau kedatangan aku ngak kasih kabar sama kamu?" manjanya Erin seraya ingin sekali melepas rindunya pada Firdaus lagi-lagi melirik kearah pintu terbuka sedikit. Merasa tahu Firdaus, bila Amak Upit menguping dan mengintipnya segera Erin di dorongnya mundur.
"Kamu ngak suka aku datang kesini!? Ya sudah aku pulang saja!" kesal Erin segera mengambil tas kecilnya. "Bukan begitu, Rin" terduduk menahan marahnya Erin saat Firdaus duduk di sampingnya. "Hihhh apa-apaan kamu, Fir!" kesal tidak suka saat Firdaus mengambil kain taplak meja untuk menutup pangkal paha mulus Erin yang tidak suka rada bingung.
"Saya tahu, Allah makin menguji kesabaran saya saat ini. Makin jauh harapan saya untuk segera menikahkan Firdaus dengan gadis pilihan saya" guman lirih sedih Amak Upit terbaring di dalam ranjang, perlahan tirai kelambunya turun dari besi pengait kiri kanannya.
Kamar seakan menjadi ikut sunyi dalam kesedihan di rasakan Amak Upit terbaring dalam tidurnya, dua matanya berusaha untuk di pejamkan seraya untuk melupakan apa yang baru saja di lihatnya. Tapi tetap saja dua matanya tidak dapat di pejamkan, karena daya ingat pikirannya sudah terekam jelas makin menusuk liang dua matanya saat melihat Erin.
"Amak tidak suka dengan gadis itu. Amak hanya mau kamu menikahi Soleha" guman makin sedih dalam hatinya Amak Upit, dua matanya berusaha untuk di pejamkan. Makin sunyi dalam ranjang sudah tertutup tirai kelambu saat dua mata sudah terpejam walau di paksakan. Kamar ikut menjadi sunyi tidak lagi terdengar suara kesedihan penuh keluh kesah atas kekecewaan Amak Upit pada Firdaus, ternyata telah memiliki pacar tidak sesuai harapannya.
"Rin, Erin jangan" menolak mendorong wajah Erin dengan tangan kanan Firdaus seraya menolak kerinduan Erin yang ingin mencium bibirnya terhenti di depan bibirnya kecilnya Firdaus. "Kamu kok gitu, Fir! Aku'kan kangen sama kamu tahu!" kesal Erin terduduk saat dirinya ingin meluapkan kerinduannya pada Firdaus.