Makin Jelas Sikap Egoisnya
Sorot sinar cahaya lampu bulat mobil membela jalan berkabut, hanya kilauan warna silver mobil samar tidak jelas terlihat karena semakin terbungkus gelapnya malam. Kiri kanan pepohonan terlelap dalam tidurnya terbungkus rindang dedaunan lebat seperti berharap ada tetesan embun menyentuhnya. Laju jalan mobil makin cepat tanpa arah pasti, makin tampak tersirat jelas pada pengemudinya meradang marah pada raut wajahnya.
"Prug, prug" makin kesal tangan kanan Erin memukul stang kemudi mobil dan tangan kirinya masih menahan kemudi laju setir sudah rada oleng kekiri. "Hahh! Kenapa sikapnya Firdaus jadi berubah begitu! Dulu di ngak seperti itu! Kesal gua jadinya!" Prug, prug" makin tidak bisa menahan marahnya Erin memukul lagi stang kemudi setir mobil.
Bulan seakan tahu ikut bersedih merasa ikut berduka, makanya sinar bulannya tidak terlalu ikut menerangi laju jalan mobil makin cepat tidak terarah dengan hanya mengandalkan sorot cahaya lampu mobilnya saja. Hanya ada rasa marah dan kekesalan dalam hatinya Erin, terlihat jelas di raut wajahnya makin meradang marah tidak terima dengan kenyataan yang baru saja di hadapainya.
"Apa selama 3 bulan ini, setelah Firdaus ada di sini? Firdaus udah di jodohin sama gadis sini?" guman prasangka tidak beralasan terucap dari bibir makin kesalnya Erin. Makin dalam kaki kanannya menginjak pedal gas mobil berjalan makin cepat. "Awas ..." refleks berteriak Erin dari dalam mobil sontak kaki kanannya menginjak pedal rem mobil berhenti dan tangan kirinya cepat mengoper kopling pada gigi netral dan menarik tuas handrem.
Di depan mobil, motor mendadak berhenti sorotan sinar cahaya lampunya mobil bikin silau Erin. "Hihh! Hampir gua tabrak loe!" "Brak" kesal menggerutu Erin sambil tutup pintu mobil rada kencang. "Loe ngak lihat kalau ada mobil?!" masih kesal mulut Erin marahi seseorang yang masih duduk di jok motor akan segera turun.
"Hei, Ibu?" cepat Arfan menghampiri Erin menahan marah, saat dia tahu bila yang berdiri di depan mobil seorang wanita, yang telah di kenalnya. "Kamu?" tidak jadi mulutnya marah Erin tapi hatinya masih dongkol karena hampir saja mobil yang di kemudikannya menabrak motor yang di kendarai Arfan. "Maaf, Bu" menunduk Arfan takut di marahi Erin. Mereka berdua berdiri tersoroti cahaya lampu mobil dan motor mesinnya masih menyalah.