Berkorban Demi Cinta
Terduduk sendiri di kursi ruangan tengah, padahal malam makin larut makin terbungkus kabut pekat dinginnya angin malam. Dua matanya seraya telah mengingat berusaha melepaskan rasa sakit yang saat ini masih tertanam dalam hatinya Firdaus. Tapi ada keyakinan dalam hatinya, bila cinta Erin masih bisa di pertahankan.
Keyakinan dan keraguan makin menjadi, makin mengelayuti perasaan Firdaus dua matanya memandang kosong kesekitar ruangan tengah hanya sunyi sepi. Sedikit tersenyum ruat wajahnya saat melihat foto dirinya bersama Amak Upit dan Abah Amran, almarhum Abahnya yang sudah pergi sejak lama dan tidak akan pernah kembali lagi telah meninggalkan dirinya dan Amaknya.
"Selama itu gua berkorban demi cinta. Tapi nyatanya pengorbanan cinta gua hanya ada dusta dan malahan bikin hati gua makin ngak terima. Tapi? Tapi gua ngak bisa ngelepasin Erin. Tapi Erin juga yang ngerendahin gua dan Erin juga yang bikin gua sampai kehilangan pekerjaan dan nghilangin rasa kepercayaan cinta gua padanya" guman makin bercampur tidak yakin tersirat dari raut wajahnya Firdaus menyalahkan Erin, padahal hatinya kecil masih mencintainya.
"Tapi jelas-jelas Erin sudah berdusta sama gua. Selama 7 hari gua ngak ngajar, selama 7 hari gua jadi sopir pribadinya, yang ternyata selama 7 hari itu juga Erin mendustai cinta ketulusan gua" sekarang mulai terlihat ada keyakinan tersirat di raut wajahnya Firdaus, bila hatinya ingin sekali lepas dan pergi meninggalkan Erin.
"Selama ini Amak selalu mendoa'kan yang terbaik untuk kamu, Fir. Tapi Amak tahu, setiap sisipan doa yang Amak panjat'kan pada Allah. Allah belum memberikannya apa yang ingin Amak mau. Tapi Amak yakin, jika Allah akan mengabulkan segalanya yang terbaik untuk kamu" sudah berdiri Amak Upit di belakang kursi, tahunya Firdaus sejak dari tadi pintu kamar Amaknya tertutup rapat.