Yakin, Karena Jodoh MilikNya Allah
Terdiam hanya berdiri seraya menahan lemas dua lutut kakinya Amak Upit melihat hampir semua pohon kopi miliknya telah di rusak. Para pekerja hanya diam ikut prihatin serya ikut bersedih perhatikan sikap Amak Upit yang sabar dan tenang. "Kalian semua tidak perlu risau, walau kali ini perkebunan kopi ini tidak panen menghasilkan uang. Kalian tetap akan mendapatkan gaji dari selama ini kalian bekerja" walau sedih penuh tanggung jawab sikap Amak Upit akan tetap membayar seluruh gaji para pekerja.
"Tapi, Mak semua perkebunan kopi ini sudah rusak dan tidak akan bisa di panen lagi?" makin merasa prihatin salah satu pekerja lelaki tidak enak hati. "Benar, Mak. Kami semua tidak mengapa, tidak di bayar kok" di timpali lagi wanita setengah baya makin ikut prihatin dengan dirinya tidak mau di bayar Amak Upit pastinya dirinya akan kesulitan sekali.
Langit siang itu sangat cerah sekali, tidak secerah perasaan sedih hati Amak Upit berusaha berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Padahal dirinya sedang di hadapkan banyak kerugian karena perkebunan kopi miliknya ada yang merusaknya. Terlebih harus berapa banyak Amak Upit akan mengeluarkan uang, tetap untuk membayar gaji pekerja yang selama ini menggantungkan hidup pada dirinya.
"Ya Allah, cobaan apalagi yang Engkau berikan pada saya?" guman dalam hatinya Amak Upit berdiri berhadapan dengan semua para pekerja yang sebenarnya mereka tahu apa yang sedang di rasakan Amak Upit.
"Loe kenapa, Mak?" tersenyum sinis songong berpura-pura peduli Arfan perhatikan hampir semua pohon kopi telah rusak. Dedaunannya berguguran jatuh dan banyak juga biji kopi ikut berjatuhan dan pastinya akan mengakibatkan banyak kerugian.