Di Hantui Rasa Berdosa
Flash Back
"Bah, andai saja Ridwan masih ada, tentunya anak kita itu akan membantu kita, Bah. Sayangnya Allah lebih sayang sama, Ridwan. Amak tahu apa yang sedang di pikirkan, Abah segitu inginnya mewujudkan cita-cita mulianya, Ridwan. Dalam setiap Sholat Amak, Amak selalu mendoa'kan cita-cita mulia Abah dan Ridwan. Tapi ingat, Bah. Jangan sampai Abah salah jalan, hanya karena Abah ingin membesarkan Yayasan Nur Islami, lantas Abah berbuat dosa" tersenyum sesaat Amak Ela melirik dua cangkir masih penuh dengan air teh hangat.
Ada rasa takut bersalah dan berdosa tersirat di raut Pak Hasan berdiri di belakang jendela dalam ruangannya, tidak semua tirai berwarna hijau menutup jendela. Terlihat jelas siang itu murid SD Nur Islami sedang istirahat, terlihat bermain penuh keceriaan seorang anak di halaman sekolah.
Lirikan mata sebelah kanannya melirik kesekitar ruangan yang tidak terlalu besar, hanya ada sepasang meja dan kursi salaing berhadapan, di lengkapi rak-rak buku bertumpukan rapi serta kursi panjang dengan setianya juga tergeletak meja kecil untuk menerima tamu.
Seraya pesan nasehat Amak Ela makin terngiang dan telah terpaku di benak pikiran Pak Hasan, ingin sekali dirinya mundur dari rencana yang pastinya akan membuat dirinya bertambah dosa. Walau dirinya ingin sekali membesarkan Yayasan Nur Islami, miliknya karena terasa makin berat bebannya untuk memuwujudkan cita-cita Ridwan, anaknya yang ingin sekali membesarkan Yayasan Nur Islami, tetapi saat ini masih terbentur dana. Melirik dua mata memandang Pak Hasan kearah luar walau masih tersekat jendela, bila ada bangunan kelas terbengkalai yang masih belum rampung.
"Tok, tok" terdengar suara pintu dari luar, cepat langkah Pak Hasan dekati pintu. Cepat tangan kanannya meraih handle pintu dan segera menariknya kedalam. "Pagi, Pak" sesaat terdiam Pak Hasan ketika sudah berdiri Firdaus di hadapannya. "Bapak memanggil saya?" makin bingung Firdaus karena hanya melihat Pak Hasan perhatikan dirinya saja tanpa mau menyambut sapaan paginya.