Perjaka Magrib ~Novel~

Herman Siem
Chapter #19

Part #19

Perbuatan Baik Itu Kunci Masuk Surga

"Kasihan mereka, Mak" melirik Firdaus kearah Ikin, Toriq dan Sirin serta para orang tuanya hanya berdiri di selasar halaman rumah bersama Soleha, Tidar dan Topik sesaat terdiam berharap ada kebaikan dari hati Amak Upit, di mana Firdaus sedang memohon agar di perbolehkan ketiga murid dan orang tuanya tinggal di sekitar areal perkebunan kopi miliknya.

"Mereka boleh tinggal dan bangun saja gubuk di sana" tersenyum penuh ketulusan terumbar di raut wajah Amak Upit perbolehkan. "Terima kasih, Mak" peluk hangat Firdaus seraya hanya pelukan hangat sebagai ungkapan rasa terima kasih terbesarnya pada Amaknya, yang mengizinkan ketiga murid dan orang tuanya tinggal sementara di perkebunan milik Amaknya.

Tersenyum haru Soleha melihat Firdaus masih memeluk erat Amak Upit, tandanya di berikan izin. "Pastinya perbuatan Amak Upit itu kunci masuk Surga" guman Soleha dalam hatinya melirik Tidar dan Topik tersenyum. "Ikin ... Toriq ... Sirin ... kalian boleh tinggal ..." teriak dari atas balkon rumah panggung khas Minang yang terlihat makin unik dan terawat beratap langit teduh.

Semua tersenyum, terlebih Ikin, Sirin dan Toriq merasa makin haru di mana mereka cepat memeluk dua orang tua mereka masing-masing, yang hatinya padahal masih sedih karena telah di bohongi. Kabar ketiga murid Yayasan Nur Islami makin tersiar sampai kepelosok pemukiman, tentu saja makin bikin resah Amak Upit dengan nasib perkebunan miliknya.

"Kenapa Amak tidak kasih tahu, saya" hanya diam tidak menjawab Amak Upit saat selesai Sholat Ashar. Sazadah di lepitnya, lalu di letakan di atas ranjang, kemudian Amak Upit akan keluar dari dalam kamar di hadang Firdaus. "Kasih tahu, Mak. Siapa orang kota itu?" rada memaksa Firdaus tetap tidak ada jawaban dari bibir Amak Upit sudah keluar dari dalam kamar, tetapi Firdaus masih berusaha ingin tahu dengan mengejar Amak Upit sudah terduduk di kursi ruangan tengah.

Lihat selengkapnya