Perjaka Magrib ~Novel~

Herman Siem
Chapter #20

Part #20

Amarah & Cinta

"Kasihan Bah, ketiga muridnya Firdaus jadi tinggal di kebun miliknya Amak Upit. Ya, untung saja Amak Upit masih baik sekali" tersenyum Soleha melirik Tidar meletakan piring kosong di hadapan Abah Sundu sudah siap-siap makan malam. Lauk pauk khas Minang tergeletak berwadah piring besar dan kecil, dengan nasi putihnya sudah di sendokan Soleha terduduk berhadapan Abah Sundu.

"Jadi selama ini, sih Arfan yang jadi biang keladinya?" sambil tangan kanan Abah Sundu siap-siap mengarahkan sendok berisi nasi dan lauk pauknya kearah depan bibirnya siap-siap membuka dan melahapnya. "Katanya ada orang dari Jakarta juga ikut. Mereka paksa Amak Upit biar mau menjual perkebunan kopi, karena'kan perkebunan kopi Amak Upit paling luas di sini. Ya, katanya sih dengar-dengar mau di bangun hotel dan tempat rekreasi" di timpali Tidar sambil makan lahap sekali.

Suara sendu sedih lagu khas Minang masih terdengar dari dalam kamar Abah Sundu, pintunya terbuka lebar. Lagu tersebut lagu kesayangan saat dirinya masih di dampingi istrinya setianya, yang kini telah terlebih dahulu menghadap Allah. "Belum lama juga Amak Upit cerita sama, Abah. Kalau perkebunan miliknya ada yang merusak, sampai-sampai tahun tidak akan ada panen kopi" sambil meneguk segelas air putih, lalu beranjak bangun Abah Sundu serasa sudah kenyang denagn makan malamnya dan segera masuk kedalam kamar menutup pintu.

"Baru tahu gua, Dar" rada terkejut Soleha mendengar pengakuan Abah Sundu tentang perkebuanan Amak Upit. "Gila juga tuh orang!" tangan kiri Tidar meneguk segelas air putih kemudian gelas kosong kembali di letakan samping piring. "Namanya juga orang, bila pikirannya sudah di gelayuti keserakahan, yang ada hatinya cuman amarah, kebencian dan keserakahan aja. Pastinya segala keingiannya yang ngak terwujud, harus bisa di dapatin dengan cara yang ngak wajar dan ngak benar" "Baik Bu Guru" tutur Soleha sambil merapihkan piring dan di ledek Tidar tersenyum ikut merapihkan piring dan gelas sisa makan malam.

Dari kejauhan Topik terlihat sedang bertanya pada warga, di mana keberadaan Arfan. Tetapi warga tidak tahu di mana keberadaan Arfan, Topik cepat kembali menghampiri Firdaus makin mulai menahan sabarnya. "Ya udahlah, Fir. Lagian percuma loe mau marah juga. Yang penting gimana sekarang ngejagain perkebunan Amak, loe. Hayoo kita keMasjid aja dulu" telunjuk jari kanan Topik di dekatkan pada Firdaus mengikuti langkah jalan Topik duluan di depan.

Lihat selengkapnya