Perjaka Magrib ~Novel~

Herman Siem
Chapter #23

Part #23

Kejujuran Mendatangkan Luka

"Abah juga tidak bisa berbuat banyak dan memaksa Amak Upit. Kejujuran itu memang lebih baik mendatangkan luka sekarang, dari pada kebohongan di kemudian hari akan membuat luka hati kamu, Leha" rasa prihatin Abah Sundu duduk di atas ranjang samping tertelungkup Soleha menahan sedihnya.

"Dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang. Dimana bumi dipijak, di situ langit di junjung. Kita harus mampu menyesuaikan diri dengan adat, aturan, nilai dan norma di daerah yang kita tinggali. Abah tidak menyalahkan Amak Nadia, yang telah datang meminta Firdaus pada Amak Upit. Tapi paling tidak Maresek sudah Abah dan Amak Nadia di lakukan, secara Adat Abah sudah menghormati Budaya kita dengan segala aturan nilai dan norma di mana saat ini kita berpijak dan bernapas. Tapi kita juga tidak bisa memaksakan Adat dan Budaya kita pada seseorang atas kehendak kita, apalagi atas nama cinta, yang jelas-jelas dia tidak mau menghargai dan menghormatinya" semakin pasrah dan semakin tidak ingin mendatangkan luka terdalam Abah Sundu pada Soleha. Dirinya sebegitunya sangat bijaksana memberikan petuah dalam logat Minangnya pada Soleha agar selalu berpasrah, mengerti akan segala tindakan agar tidak selalu sedih.

"Soleha makan dulu" ajak Tidar sudah berdiri samping ranjang di barengi Abah Sundu beranjak bangun dari ranjang. Masih terdengar setia alunan musik Khas Minang dari kamar Abah Sundu, masih terdengar lirik lagu tentang perjuangan cinta, lagu kesukaan Abah Sundu.

Lirikan dua mata Abah Sundu lantas membuat mengerti Tidar agar tidak memaksa Soleha yang masih tidak mau makan. Lantas piring berisi nasi dan lauk pauknya di letakan di atas meja berhadapan cermin, tampak terlihat bayangan utuh sahabat setianya Soleha. Kemudian Tidar terduduk di sampingnya, masih di atas ranjang dua gadis itu mulai akan bercerita.

"Lebih baik loe lihat sekarang apa yang tadi terjadi. Benar kata apa kata Abah, loe lihat sendiri'kan kalau Firdaus udah punya pacar. Lebih baik loe lihat, walau hati loe nanti terluka. Dari pada loe ngak lihat, loe cuman ngarep. Tapi di lain waktu, loe akan tahu dan pasti akan sakit hati dengan kejujuran yang seharusnya loe tahu. Udeh sekarang loe makan dulu, Soleha" nasehat makin jelas tertutur dari bibir Tidar sambil akan mengambil piring, tapi tangan kirinya di urungkan tidak jadi. Karena Soleha masih tetap tertelungkup tiduran sedih.

Malam makin jelas menjadikan sekitar Jembatan Siti Nurbaya mulai makin sepi, sudah jarang di lewati kendaran yang lalu lalang. Akan tetapi hati penuh keyakinan masih membuat Fridaus masih ingin menuggu siapa pengirim pesan, meminta dirinya bersabar dan segera untuk bertemu.

Lihat selengkapnya