Mencoba Untuk Sehati
Risau perasaan Amak Upit kembali lagi menduduki mendiami sanubari perasaannya, saat melihat Firdaus masih terlelap tidur dalam ranjang. Padahal sejak dari tadi sinar matahari masuk dari celah jendela berapa kali mencolek wajah tampannya Firdaus saat tirai kelambu ranjang di buka Amak Upit.
Sesaat berdiri pendangan Amak Upit perhatikan Firdaus, ada rasa kerisauan makin membuatnya dirinya yakin dengan pastinya ada sesuatu telah membuat Firdaus pagi itu tidak kembali lagi mengajar. Padahal baru saja berapa hari Firdaus mengajar di Yayasan Nur Islami, milik Pak Hasan. "Fir" suara pelan penuh kasih sayang membangunkan anak satu-satunya, tetapi tetap saja Firdaus tidak bangun juga. Makin bingung Amak Upik berjalan kearah jendela dan membuka jendela terbuka lebar.
Langit makin cerah, makin mengajak sinar matahari semakin terik untuk menghangatkan sia-sia dinginnya malam tadi. "Kamu tidak berangkat mengajar?" ternyata Firdaus sudah terjaga bangun, tapi rasanya dirinya malas untuk turun dari ranjang saat di tanya Amak Upit, makin tersirat risau di raut wajahnya. Mulutnya terus mengunyah sirih, yang terus masih di lumatnya lalu terduduk di atas ranjang di samping Firdaus makin malas untuk turun dari ranjang.
"Nanti bagaimana dengan Pak Hasan, pastinya beliau akan bertanya. Kenapa kamu tidak mengajar? Lagian'kan kan kamu baru mengajar berapa hari, masa hari ini kamu tidak berangkat mengajar" sedikit tersenyum terungkap dari wajah Amak Upit perhatikan Firdaus. Makin yakin hatinya Amak Upit, sepertinya melihat ada sesuatu yang sedang di pikirkan Firdaus.
"Jika kamu ada masalah, kasih tahu Amak. Barangkali saja Amak bisa meringankan beban masalahmu, Fir" berusaha sebagai seorang Amak ingin sekali ada dalam setiap masalah anaknya, Amak Upit makin yakin bila benar ada sesuatu yang sedang di alami Firdaus saat ini.
"Kamu semalam dari mana, sampai pulangnya larut malam sekali?" beranjak bangun sambil mulutnya melepehkan sisa sirih sudah terlumat kedalam baki sudah terisi sisa sirih berwarna kuing gelap. Amak Upit merasa bila setiap pertanyaan dan kerisauan tidak akan pernah di jawab, bila pastinya dari gelagatnya Firdaus akan kembali lagi seperti dia baru pulang dari rantau.