Menabur Debu
"Firdaus sakit, Mak?" mencoba bertanya Topik saat Amak Upit berbalik akan berjalan terhenti langkah jalan kedua kakinya. "Kenapa Firdaus ngak datang ngajar hari ini?" berbalik Amak Upit perhatikan wajahnya Topik segitu ingin tahunya tentang Firdaus, yang adalah teman baiknya.
"Kamu tanya'kan sendiri saja sama, Firdaus" jawab Amak Upit berbalik jalan, sesaat Topik hanya diam berdiri saja ketika dua langkah kaki Amak Upit semakin jauh mengajaknya berjalan. Pandangan Topik hanya melihat belakang Amak Upit terbalut pakaian adat Minang lengkap dengan hijab hijaunya.
"Kok perasaan gua jadi ngak enak nih?" guman dalam hati Topik tidak jadi kaki kanannya terbungkus sepatu hitam akan melangkah saat akan menginjak sisa sirih kunyahan mulut Amak Upit.
Pepohonan berdiri tegak, dedaunan seraya bergerak riang karena hempasan semilir angin sejuk walau terasa panas siang itu. Burung segitu cepatnya mengepakam dua sayapnya terbang bermain beratap langit teduh siang. Awan putih teduh bergulir riang, serasa mengiringi langkah jalan Amak Upit bergegas mengikuti derap dua langkah kakinya beralas sandal jepit merah tua.
"Teng ... Teng ..." suara bel sekolah berbunyi, tandanya semua murid Yayasan Nur Islami segera akan pulang. Batang besi lalu di letakan pada meja, tersenyum sapaan hangat Topik pada setiap murid yang akan beranjak pulang.
"Hati-hati di jalan. Langsung pulang kerumah ya, tidak boleh mampir kemana-mana" hampir setiap hari saat murid-murid pulang selalu itu terdengar nasehat Topik. Hampir semua putih mewarnai halaman sekolah, makin bikin sinar matahari memantul berkilau saat peci dan hijab putih saling berlarian duluan ingin cepat sampai rumah. Hijau menghiasi halaman sekolah saat di lihatnya dari bawah, hampir semua murid perempuan memaki rok warna hijau dan celana panjangnya di kenakan murid anak lelaki.
"Bang Topik, hari ini Pak Firdaus tidak datang mengajar?" tanya Ikin sudah ada di hadapan Topik cuman tersenyum saat datang berlarian Sirin dan Toriq menghampiri Ikin.