Semakin Di Lebur Rasa Dosa
Suara Adzan Magrib menggema memanggil sampai menyentuh kalbu sukma relung hati bersiap-siap untuk bersuzud namun sebelumnya berbasuh seluruh tubuh untuk kembali yakin mendekatkan padaNya. Suara Adzan Margib makin terdengar, makin membuat semuanya kembali teringat padaNya, bila hanya Satu adalah Allah. Langit kembali telah menunjukan gelap bersama datangnya begitu setianya rembulan bulan sempurna bermain ceria dengan awan hitam menari-nari di hadapannya.
"Amak Upit tunggu" ternyata sejak dari tadi Pak Hasan mengejar langkah jalan cepat Amak Upit seraya terus menghindar darinya, karena sudah tahu rencana jahatnya. "Saya tahu Amak marah kecewa dengan saya. Tapi sumpah Amak, saya berat untuk melakukan semua itu pada Firdaus. Sampai detik ini niat jahat saya belum sampai menyentuh Firdaus, karena semakin ada rasa takut akan di telan rasa berdosa dan berdosa. Dan jangan ini juga menyalahkan Abah Sundu yang meminta Firdaus mengajar, semua ini adalah kesalahan dan kehilafan saya, Mak" berusaha Pak Hasan menjelaskan hanya terdiam langkah jalan Amak Upit dua matanya memandang kubah besar Masjid dari kejauhan, walau di telan gelap tetap nampak terlihat jelas nyata lafal Asma Allah terlihat nyata berada di ujung kubah Masjid.
"Benar, Mak. Niat jahat saya belum sampai menyentuh Firdaus. Bodohnya saya, kenapa saya sampai mudahnya terhasut orang kota itu dan sih, Arfan? Walau berkali-kali istri saya selalu menasehati saya, agar saya menjauh dari perbuatan dosa, hanya mengatas'kan keinginan almarhum Ridwan. Semasa hidupnya Ridwan ingin sekali membesarkan Yayasan Nur Isalami, tapi sayangnya Allah lebih sayang sama Ridwan. Semakin di lebur rasa berdosa, semakin saya merasakan bersalah. Saya menyesal, Mak" seraya akan memohon duduk berdeku bersujud di hadapan Amak Upit menaha pundak Pak Hasan, dengan dua tangan Amak Upit seraya tercermin dari dua matanya memaafkan Pak Hasan.
"Menyesalilah dan mintalah maaf dari segala perbuatan dosa Bang Hasan, pada Allah. Minta maaf'lah segera padaNya, dari segala ingkar dan khilaf pada, Allah. Kembalilah pulang, sekarang sudah waktunya Sholat Magrib" tersenyum seraya seruan kumandnag suara Adzan Magrib meluluhlantakan menggedor amarah Amak Upit, menjadikan dirinya seorang pemberi maaf tulus terpancar dari raut wajahnya penuh ketulusan. Makin malu, makin terasa sesak hati kalbu Pak Hasan merasa bersalah, dnegan kesalahannya begitu saja di maafkan oleh Amak Upit. Hanya terdiam berdiri perhatikan langkah jalan wanita tua yang sangat mulia hatinya, mau memaafkan dirinya.
Ruat wajah masam, tetapi masih berusaha di sembunyikannya dari wajah Amak Upit terlihat tersenyum saat berpapasan dengan Firdaus cepat bergegas keluar dari dalam rumah. Sesaat terdiam Amak Upit berdiri di atas undakan anak tangga kedua, pandangannya hanya perhatikan langkah cepat Firdaus tidak menyapa dan tidak mendengar mengucapkan, yang biasanya salam terlontar dari bibir Firdaus. Amak Upit tidak ingin memberitahukan tengah apa yang baru saja di alaminya, pastinya akan bertambah beban Firdaus.