Perjaka Magrib ~Novel~

Herman Siem
Chapter #27

Part #27

Mencintai & Kemarahan

Jutaan taburan bintang saling berkedipan bermain mata memayungi langit makin gelap tapi masih terlihat indah seraya pasti janjinya sinar rembulan malam akan terus meneranginya. "Gua akan berusaha mencintai Amak dan?" belum tuntas terucap niatnya Firdaus sesaat dua matanya terpaku melesatnya bintang jatuh di hadapannya nun jauh, tetapi niatnya akan kesampaian.

"Loe akan berusaha mencintai Amak dan siapa, Fir?" beranjak bangun Topik tersenyum berdiri pandangi langit makin terasa indahnya di pandang mata. Seraya langit makin tahu isi hati dari apa yang sedang di pikirkan Firdaus, makanya langit sengaja menurunkan satu bintang sebagai jawaban atas kerisauan hatinya Firdaus selama ini, tetapi tetap saja hatinya belum bisa mentukan kemana cintanya.

"Kita pulang aja yuk, Pik" ajak Firdaus berjalan duluan di ikuti Topik sesaat melempar senyuman pada wajah Masjid yang akan selalu membalasnya dengan senyuman hangatnya. Malam semakin larut, hanya terdiam Masjid berselimut pekatnya malam saat motor dengan sorot cahaya lampunya meninggalkan selasar halaman Masjid Nur Zikrillah.

Motor yang di kendarai Topik kemabli berjalan, setelah dirinya mengantar pulang Firdaus sesaat wajah tampannya melempar senyuman pada rembulan malam. Perlahan dua derap langkah kaki Firdaus masuk dan berjalan, tetapi malahan langkahnya terhenti saat mendengar sayup lantuan doa Amak Upit di tengah malam. Hampir setiap malam Amak Upit selalu menjalankan Sholat Tahajud, selalu terdengar sisipan doa untuk kebaikan dan kemulian dirinya. Hanya sedih berdiri di depan pintu, seraya dua kakinya terikat mendengar ketulusan sisipan doa yang di panjatkan Amak Upit pada Pemilik Segalanya, Yaitu Allah Semata.

"Saya tahu ya, Allah. Bila Engkau tidak pernah menempat'kan saya pada setiap situasi kondisi masalah terbarat yang sedang saya jalani, di mana saya tidak bisa mengatasinya. Saya yakin, saya bisa melalui semua derita aral rintangan hidup, yang saat ini sedang saya jalani. Hanya satu pinta saya, muliakan derajat saya dan satu-satunya harapan saya, yaitu Firdaus. Berikan dia kekuatan dari segala masalah yang sedang di hadapinya" makin tidak bisa terbendung rintik air mata bercucuran jatuh makin sembab basahi dataran wajah Amak Upit masih dua tangannya seraya memohon.

Lihat selengkapnya