Kemarahan Sampai Menghitami Langit
Kepulan asap hitam dari pembakaran terus membumbung tinggi menukik seraya mengacak-acak keindahan langit cerah pada siang hari. Sontak menjadikan langit yang tadinya penuh kegembiraan selalu memancarkan keindahannya, kini terlihat menghitam dan penuh kesedihan karena tertusuk kepulan asap makin membumbung menghitam. Tampak langit menjadi hitam terlihat dari pelosok kejauhan.
Ratapan kesedihan hanya bisa terdiam tidak bisa berbuat apa-apa karena dalam ancaman meratapi hampir habis terbakar ketiga gubuk darurat hampir rata dengan tanah perkebunan. Ketiga pasang orang tua muridnya Firdaus semakin tidak berani untuk mengetuk hati perbuatan jahatnya Arfan, yang telah melakukan kejahatannya membakar ketiga gubuk di pinggiran perkebunan kopi milik Amak Upit.
"Hahahahaha ..." tertawa lantang puas seraya tidak perdulikan perasaan hati ketiga orang tua muridnya Firdaus, yang mereka kesemuanya sudah di bohongi Arfan. Dengan di tambah lagi kesedihan yang pastinya akan menambah mereka seakan di terjang bertubi-tubi kehancuran dinding kesedihan semakin meratapi kesedihan yang mungkin saja tidak akan berujung.
Api makin menjilat takut merambat pada pohonan kopi, makin melalap semua lempengan dinding yang terbuat dari triplek sampai tidak tersisa sama sekali dan semuanya telah menjadi abu bercampur kesedihan air mata ketiga orang tua. "Tidak boleh ada yang menempati atau mendirikan bangunan di sini, karena perkebunan ini sudah di jual! Hahahahaha ..." makin menjadi Arfan dengan lantang tawanya. Makin menahan sedih ketiga wanita, Amak dari ketiga anak yang tidak tahu saat ini berada di mana. mungkin saja mereka sedang mencari pertolongan
Dari kejauhan Firdaus, Ikin, Toriq dan Sirin berlari cepat kearah perkebunan kopi, yang tidak nampak lagi asap hitam yang tadinya terlihat membumbung tinggi. "Sirin ..." teriak barengan Ikin dan Toriq terkejut saat melihat batang pohon besar menggelinding akan menerjangnya. Terkejut telat berlari sahabat karib mereka berdua terjatuh dan seketika batang pohon besar menggelinding menghimpit kakinya Sirin. "Auw ...!" menahan sakit kaki kanan Sirin saat sebatang pohon besar menindih kaki kananya, berusaha di singkarkan dua tangan Firdaus.
"Kaki, kakiku" menahan sakit kaki kanan Sirin, remaja cantik berhijab putih sebagaian pakaiannya sudah kotor. Kaki kanan Sirin masih terjepit batang pohon besar, makin sulit di singkirkan Firdaus, Toriq dan Ikin. "Batang pohon ini besar sekali, Pak Guru" peluh terlihat di seka tangan kiri Ikin saat tubuhnya kecil tidak bisa menyingkirkan batang pohon besar makin menghimpit kaki kanannya Sirin.