Malu Tapi Mau
Sedihnya Amak Upit melihat hampir sebagian perkebunan kopi miliknya terbakar, hanya terlihat rerentuhan gubuk darurat telah jadi abu rata dengan tanah. "Abah" sedih Soleha memeluk Abah Sundu sesaat mengelus hijab putih yang di kenakan Soleha siang itu. "Semua ini, Arfan yang melakukannya" ucap Soleha melirik Amak Upit hanya terdiam seakan dirinya terpaku dalam kepasraan dengan segudang kesedihan yang makin memaksa dua matanya untuk segera menurunkan tetesan air mata.
"Kalian bisa tinggal di rumah saya. Masih ada berapa petakan kosong di belakang rumah" tersenyum haru tersulut hati Abah Sundu ingin menolong penderitaan ketiga murid dan orang tuanya. "Biarkanlah kejahatan itu tetap menjadi tabir gelap dalam bagian orang yang licik, dalam dirinya selalu di penuhi keegoisan dan serakah" berusaha tersenyum raut wajah Amak Upit, tetap saja hatinya tidak sejalan bila masih terlihat ada kesedihan pada dua matanya berkaca memerah menahan kesedihan.
"Manang jadi arang, kalah jadi abu. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Pertengkaran tidak akan pernah menyelesaikan masalah, dan memberi keuntungan apa-apa bagi siapapun. Hanya rasa sabar dan pasrah terhadap Allah, karena pastinya Dia Maha Tahu SegalaNya" tersenyum makin terurai kesabaran terucap dari bibir Amak Upit masih mengunyah sirih semakin terlimat dalam mulutnya.
"Fir, loe jangan diam aja dong. Lihat tuh Amak, loe. Gimana kek, ngapain kek biar Amak, loe ngak sedih gitu!" berapa kali tangan kanan Topik menarik Firdaus di dekatkan pada Amak Upit, tetap saja keegoisan masih membekukan hatinya dan berapa kali tangan kanan Firdaus juga menghentakan tangan Topik seraya tidak mau tahu dengan kesedihan Amak Upit.
Tersambung lagi lirikan dua pasang mata saling menatap di perhatikan banyak pasang mata di tengah perkebunan kopi beratap langit sendu. Dari dalam sanubari Amak Upit berusaha memaksa penuh harapan, bila apa yang di lihatnya akan ada keajaiban cinta segera mengetuk hatinya Firdaus untuk menyatakan dan menerima Soleha.