Perjaka Magrib ~Novel~

Herman Siem
Chapter #34

Part #34

Ada Senyuman, Ada Kesedihan

"Maaf'kan saya, Mak" peluk hangat Erin memeluk tubuh mulai makin menuanya Amak Upit, serasa dirinya sudah memaafkan kesalahan Erin sejak lalu dia datang dengan cara tidak sopan dan tidak beretika. Begitu juga tangan Anton menciumi menyalami tangan Amak Upit melirik Firdaus hanya terduduk diam sejak tadi.

Masih ada rasa cemburu dan tidak terimanya, walau semalam dirinya sudah ikhlas melepaskan Erin untuk Anton. "Fir, gua janji akan menangung semua ganti rugi kerusakan perkebunan Amak Upit. Dan gua sudah melaporkan pada pihak yang berwajib, tentang perbuatan liciknya, Arfan. Pastinya gua dan Erin ngak akan lagi maksa Amak Upit untuk menjual perkebunan kopinya lagi. Gua dan Erin sadar, udah terlalu bangat sama Amak Upit. "Loe juga mau'kan maafin gua sama Erin?" mendekati Anton berdiri di hadapan Firdaus tetap duduk saja.

Ada rasa bersalahnya Erin pada Firdaus, di mana Erin masih di ada dalam hatinya Firdaus masih merasa belum bisa menerimanya. "Aku janji, Fir. Akan jadi Erin yang lebih baik lagi. Aku akan sehati dan sejalan dengan, Anton" terduduk seraya memohon maaf atas kesalahannya Erin pada Firdaus dua tangannya di raih Erin berharap dirinya mendengar ucapan Firdaus.

"Gua juga janji sama loe, Fir. Bila hati gua akan sehati dan selalu sejalan meraih indahnya cinta bersama, Erin" makin menahan rasa cemburunya hatinya Firdaus makin tidak ingin melepaskan Erin, ketika lagi-lagi ucapan Anton ingin menyakinkan dirinya. Sontak beranjak bangun Firdaus, dua matanya menatap sinis kerarah Erin dan Anton berdiri di samping Amak Upit. "Brak" suara pintu kamar tertutup dari dalam.

"Amak sehat-sehat selalu ya" peluk cium Erin sesat melepaskannya Amak Upit terdiam berdiri di atas teras beranda rumahnya perhatikan Erin dan Anton naik mobil. Lirikan mata kanan Amak Upit melirik kearah jendela, masih belum inginnya Firdaus di tinggalkan Erin. "Cinta tak selamanya ada dan selalu terkurung dalam hati ini. Terkadang cinta itu masih mengembara ingin mencari di mana cinta itu menemukan cinta sejatinya" seraya menyindir ucapan Amak Upit melirik kesisi kanan jendela sudah tidak lagi terlihat Firdaus.

Lihat selengkapnya