Mulai Ada Cinta
"Arfan! Lepasin gua! Tolong ..." teriak berusaha merontah Soleha sambil berapa kali tangan songong Arfan akan menyentuh pipinya. "Hahhhh!" kesal Arfan menahan sakit berapa kali perutnya tertendang kaki kiri Soleha merontah setengah tubuhnya terikat di pohon kopi.
"Lepasin!" teriak seraya meminta tolong Soleha tapi hanya di cuekin Arfan. "Boleh aja loe gua lepasin, Soleha. Tapi ngak semudah itu. Gara-gara loe dan Perjaka Magrib itu! Hancur masa depan pekerjaan gua! Bini gua, Mariyam ngusir gua dari rumah. Kalau aja Amak Upit mau ngejual perkebunan ini, tentu saja Mariyam masih mau terima gua!" seraya akan mengancam keselamatan Soleha hanya terdiam ketakutan, saat tangan Arfan sengaja mengarahkan pisau belati kewajah Soleha.
Malam makin larut, rembulan terlihat tersisa setengah di teralingi awan hitam seraya ikut ketakutan dengan apa yang di lihatnya. Suara binatang malam terdengar mencekam makin bikin bertambah ketakutan Soleha. Makin ketakutan saat bibir tajam pisau belati mendarat di pipi kanan Soleha, bila benar bibir tajam belati menyayat pipinya, maka hanya kesedihan sepanjang waktu akan di rasakan Soleha wajahnya akan jadi cacat seumur hidup.
"Tolong lepasin gua, Arfan!" makin ketakutan bibir belati terhenti tepatnya di bawah mata sebelah kanan Soleha. "Pisau belati ini akan mencongkel mata indah loe, Soleha" makin sengaja bibir tajam pisau belati semakin di dekatkan makin ketakutan Soleha, kalau-kalau benar Arafn akan benaran mencongkel mata sebelah kanananya.
"Brug" "Ahkhhh ..." suara siku kaki kanan Soleha di arahkan pada perut Arfan menahan sakit membungkuk, sontak pisau belati terlepas dari genggaman tangan kirinya Arfan. "Tolong ... tolong ..." teriakan Soleha makin bikin kesal Arfan lalu mengambil sebatang ranting pohon kopi, kemudian di bakarnya.