Berjalan mengambil rencana,
beragam rencana, bisa sekedar wacana.
perlu mengganti diri yang baru,
tanpa ada yang baru.
Pura-pura lupa, cukup menjadi topeng untuk mengganti diri Qiya yang baru, tanpa ada yang baru. Yang baru bukan hanya sebuah topeng, ia membeli barang baru yang sangat ia nantikan kehadirannya. Barang itu adalah Bolpoin 3 warna hitam, biru, dan merah. Qiya membelinya dari marketplace online, ia telah menjelajahi berbagai toko peralatan sekolah di kotanya tidak ia temukan. Suatu kebahagiaan memilikinya, semoga kebahagiaan ini memiliki waktu panjang agar selalu bersama alat ini dimanapun dan kapanpun. Empat bolpoin yang Qiya beli. Kenapa Qiya membeli bolpoin ini? apa bedanya dengan bolpoin yang lain?
Baru Qiya temukan bolpoin 1 yang isinya tiga kalau dipegang tidak terlalu gemuk, bolpoin itu langsing dan tidak terasa berat ketika digunakan untuk menulis. Selain itu ia memutuskan membeli bolpoin ini karena agar tidak sama dengan bolpoin guru yang lain. Kalau hilang bolpoin ini akan kelihatan dan terlihat itu milik siapa. Bolpoin itu bernama Joyko.
Bolpoin Joyko Qiya mengantarkannya menulis nama dalam sebuah amplop sebagai hadiah pernikahan teman sekelasnya dulu waktu SMA. Ia membuka almari baju, kebingungan memilih pakaian ketika hendak bepergian adalah hal yang selalu setia menemani Perempuan di luar sana. Duduk mengamati lipatan baju yang beraneka macam warna dan bentuk yang tidak bisa dilihat karena sebuah lipatan. Belum juga ketika sudah memilih, belum tentu baju itu rapi. Lantas apa yang akan dilakukan ketika baju itu belum rapi dan belum siap dipakai?
Setelah setengah jam Qiya menemukan Dress yang akan dipakai. Kemudian Qiya menyentrikanya. Dress yang indah dengan perpaduan outher batik yang ingin ia pakai serasa berkarisma, anggun, dan indah dengan taburan make up dan jilbab yang dibentuknya dengan rapi. Lama bercermin di cermin besar menjadi nikmat tersendiri bagi manusia yang ingin melihat tubuhnya secara utuh.
Suara sepeda motor Shofa terdengar dari kamar Qiya. Ia lekas keluar kamar, dan menemui Shofa. "Qi, cuantik dan anggun sekali dirimu. Ada yang berbeda ni? apa ya kira-kira?", Qiya tersenyum bangga karena teman dekatnya memujinya dengan rasa takjub.
Sesampainya ditempat kondangan, Qiya merasa orang-orang melihatnya dari ujung jilbab sampai bawah. Apakah karena Dress yang dipakai Qiya? Dress yang elegan dengan outher batik. Inilah mungkin yang dirasakan laki-laki memakai baju batik ketika pergi ke kondangan. Qiya menggapai androidnya dari tas cokelat yang mungil, kemudian menekan suatu nomor whatsapp bernama Yunus. Laki-laki ini menyukai sejarah, biasanya enak diajak berdiskusi dan bertukar pikiran mengenai peristiwa. Qiya menanyakan tentang batik kepada Yunus. Ia melihat terakhir online pukul 12.13, ia berpikir Yunus sedang sibuk. Mungkin akan ia jawab malam hari.
Pulang dari pernikahan teman, Qiya tidak berhenti perjalanan. Ia tidak ingin langsung pulang ke rumah. Shofa mengajaknya pergi ke pantai sekedar menikmati senja di sore hari. Dengan memesan segelas air dan duduk berdua, pemandangan senja itu indah di depan mata. Enak dipandang dan berandai-andai. Seandainya, begitulah seterusnya yang Qiya andaikan. Dan, sayang sekali moment langit senja yang indah ini tidak diabadikan di kamera. Qiya memotretnya dengan HP Samsungnya. Ia memposisikan badannya dari jongkok, berdiri, menyamping, kemudian berdiri lagi sampai HP nya pun terbalik demi memotret senja.