Perjalanan 25

Aviskha izzatun Noilufar
Chapter #5

#5 Berjalan


Kaki berjalan berdua

bersama waktu, 

bersama keinginan dan 

keingintahuan



Kalau bukan dengan dua kaki, perjalanan ini tidak mungkin sampai. Sampailah mereka berdua di suatu tempat. Tempat ini sebuah rumah, tapi bukan sembarang rumah. Rumah ini  jual buku, dan juga ada warungnya atau jual kopi dan ayam penyet. Namanya adalah Warung Sastra. 

Berada di tengah pusat kota Yogyakarta, tidak jauh dari tugu Jogja. Hanya memasuki gang-gang sedang, bukan sempit. Seperti biasa Kimyah yang membaca Maps lokasi Warung Sastra. Berada di gang paling tenang dari hiruk pikuk keramaian. Mungkin karena letaknya di dalam. Warung ini walaupun letaknya di dalam, tapi tetap ramai pengunjung. Qiya memesan telur penyet dan segelas plastik teh berlogo Warung sastra di bawahnya ada keterangan buku, kopi, penyetan sejak 2017. Sedangkan Kimyah memesan Ayam Penyet dan segelas plastik teh. 

Dengan menunggu pesanan datang, Qiya dan Kimyah masuk ke belakang kasir, tepatnya masuk dalam rumah. Di dalamnya ada buku-buku yang di jual dan ketika masuk ke dalam sebuah ruang kamar, ada sebuah sofa dan rak-rak buku yang mana bukunya bisa di baca di ruangan tersebut, atau di bawa keluar untuk di baca dengan menikmati hidangan kopi dan penyetan. “Kim, ambil buku satu untuk di bawa ke depan.” perintah Qiya ke Kimyah, agar Kimyah mengikutinya. 

“Rencana berapa jam di sini Mbak?”, Kimyah berpikir kalau dia ambil buku pasti berjam-jam, tetapi Qiya menjawab, “sampai maghrib. Setelah itu cari musholla di luar.” Dengan melihat-lihat koleksi buku Kimyah menyambung kalimat Qiya. “Kalau begitu, aku cari buku yang tipis aja.” Qiya meniyakan kalimat Kimyah. 

Setelah Qiya memilih buku untuk dibaca, ia menuju rak-rak buku dimana bukunya di jual. Qiya melihat buku-buku itu satu persatu, dengan kagetnya ia ingin membeli buku incarannya. Ketika ingin membawa buku itu ke kasir, Qiya berpikir kembali ketika nanti beli buku, uang yang akan tersisa di dompetnya akan menipis. Kemudian ia kembalikan buku itu ke tempatnya dan keluar dari ruang ini dengan memotret sisi-sisi lukisan maupun tulisan yang unik.

Mencari tempat duduk yang nyaman dan pemandangan yang bagus. Menunggu es teh dan penyetan tidak terlalu lama, karena Qiya dan Kimyah menikmati dengan membaca buku. Tak terasa dalam bacaan, Qiya hampir lupa meminum es teh. Biasaya Qiya antusias meminumnya sebelum membaca buku. Setelah sadar ada es teh dan penyetan di hadapannya, langsung ia santap dengan cepat disebabkan perut yang kosong sejak tadi. 

Lihat selengkapnya