Hari ini adalah acara Festival Santri Nasional di sekolah, sebuah acara tahunan yang menggabungkan lomba dakwah dan seni islami.
Aku memakai baju koko putih yang dibalut selempang biru yang terulur dari bahu kanan,membelah badan dan berakhir di pinggang kiri. Di selempang itu ada nama ‘Iskandar calon tahfidz'.
Selempang itu bukan barang bermerek, tapi karya tangan ayahku dengan penuh cinta.
“Anak mama tampan sekali...." suara mama lembut, tangannya tak berhenti merapikan bajuku, seolah memastikan tak ada satu pun yang kurang.
Ayah mengusap bahuku dengan tangannya, "semoga Tuhan membuka jalanmu lebar-lebar, Nak. Berikan yang terbaik!"
Adikku Najwa, tak berhenti menatapku, "Wah... Abang seperti pak ustadz,” ucapnya dengan mata berbinar.
Langkahku menapak di atas karpet merah. Sorak teman-teman membakar semangat.
Namun saat itu tubuhku seperti memberikan alarm bahwa dia tidak dalam keadaan baik-baik saja. Rafazel yang menyadari itu, menepuk bahuku.
“Is... ada masalah? wajahmu pucat sekali"
“Entahlah, Zel....” suaraku parau, menyeka keringat dingin yang membasahi dahi.“Badanku rasanya lemas... dan penonton ini terlalu banyak”
“Tarik napas dalam-dalam, jangan hawatir ,kamu sudah berlatih sangat keras,” bisiknya menenangkan. “Lihatlah ke depan, mamamu sudah menanti, ia ingin melihat bintang kecilnya bersinar"
Aku mengangguk pelan, menelan ludah yang terasa pahit. “Kamu benar, aku harus kuat untuk mama.”
Tepuk tangan bergemuruh.
Aku melangkah berusaha kuat. bahkan ketika bumi yang ku pijak tak lagi memberikan rasa. Selempang biruku melorot perlahan menjauh dari tempatnya.
Saat turun panggung, kakiku benar-benar tak sanggup lagi menopang tubuh.
Mama berlari menghampiri,
“Abang... kamu sakit, nak?”
“Ma... aku sedikit pusing....” suaraku bergetar, menahan rasa sakit yang menusuk-nusuk dari dalam.
“Kita pulang!” serunya panik.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba darah menetes dari hidungku, menodai baju putih yang bersih itu.