Lampu kamar yang temaram tidak mampu menghangatkan dingin dari ujung jariku. Di luar, angin malam mengetuk jendela, seolah ingin masuk dan mengintip rahasia yang baru saja terbongkar di atas sprei putih itu.
Sebuah map coklat terbuka. Isinya hanya beberapa kertas, namun beratnya terasa seperti ribuan ton baja yang menghimpit dadaku.
“Hepatuceluler Carsinoma, stadium 3"
Aku mengeja kata itu pelan, seolah aku salah mengucapnya, dan artinya akan berubah.
Ku buka layar ponsel ditangan, ku sibakkan halaman penelusuran,
Jawaban itu hadir dengan kejujuran yang pahit
“Kanker hati"
Kalimat itu menghancurkan sisa-sisa harapanku yang aku bawa pulang dari rumah sakit.
Tatapanku tajam ke arah pintu yang tertutup rapat. Keheningan terasa mencengkam. Aku teringat tangisan mama di malam itu, dan laki-laki yang selalu kuat ia duduk termenung, seolah seluruh tulang penyangganya telah dicuri.
“Jadi ini alasannya?” bisikku dalam hati. “Ini alasan dokter melarangku ikut turnamen?”
Pandanganku beralih ke sebuah lemari kayu yang berada di sudut ruangan. Tergantung sebuah Jersey hitam bernomor punggung 2. Nama Iskandar tercetak tegas di sana, seolah menantang maut.
Di bawahnya sepasang sepatu futsal biru, dan aku menatap ke arah meja kecil di sampingnya sepasang sarung tangan kiper warnanya senada dengan sepatu sesuai warna kesukaanku.
Semua itu adalah hadiah ulang tahunku satu bulan yang lalu. Ayah dan mama memberikan hadiah itu untukku, yang aku janjikan akan membawa tim menuju kemenangan.