Malam itu, rumah kami bukan lagi tempat berteduh. Melainkan sebuah kotak kaca yang retak. Suara mama melengking memecah hening malam, sementara suara ayah berat dan bersikeras, sebuah perpecahan yang katanya tercipta karna aku.
Suara mama melengking tinggi, membelah keheningan malam. “Apa kamu pikir penyakit anak kita ini penyakit biasa, mas? Apa kamu pikir ini demam yang bisa hilang dengan istirahat!”
“Selama ini... dia bertahan karna ramuan herbal dan terapi itu," suara ayah datar, dingin, namun tersirat ketegangan yang tertahan.
Napas mama terengah-engah, dadanya sesak seolah oksigen di ruang itu hilang. “Kita tidak punya banyak waktu lagi, mas! Kita tidak pernah tahu apa yang dilakukan kanker itu di dalam sana. Mungkin dari luar dia terlihat sehat, tapi di dalam... Kita tidak tahu apa yang sedang hancur!”
Mama terisak, pundaknya terguncang hebat.
“Aku tidak mau kehilangan dia... aku takut, mas aku sangat takut”
Ayah mendekat dengan tatapan tajam.
“Dan kamu pikir aku tidak takut? Kamu pikir aku tenang-tenang saja!”
Suara ayah mulai meninggi, bergetar oleh emosi yang tumpah. “Setiap kali aku memberikan ramuan herbal itu, aku seperti menyerahkan nyawaku sendiri untuknya! Aku berharap dengan herbal itu, dia bisa sembuh dengan utuh! Jangan pernah bicara seolah-olah... seolah-olah hanya kamu saja yang mencintainya!"
Keheningan sesaat pecah oleh tangis mama yang meledak. Suara tangisan yang sangat dalam, jenis tangisan dari luka yang tak terlihat. Mereka berdiri berhadapan dua orang yang saling mencintai, namun hancur oleh cara mereka mencintai anak yang sama.
Pertengkaran yang aku dengar dari balik pintu, pertengkaran yang membuat aku memeluk lututku sendiri. Aku tahu mereka melakukan ini semua karna aku, tapi kenapa harus saling meninggikan suara? Kenapa harus menyakiti satu sama lain?
Jika kalian terus bertengkar... bagaimana dengan aku?
Ayah dengan keyakinannya pada akar bumi dari sari pati alam. Ayah ingin aku sembuh lewat sabar yang panjang, meski setiap kuteguk cairan pekat itu, rasa pahit langsung menjalar tajam, melekat di lidah dan tenggorokan, Sedangkan mama ketakutan dengan berjalannya waktu, dia ingin pengobatan medis yang cepat
Aku masih ingat dinginnya kursi tunggu saat fajar belum lagi menyingsing. Di sana aku dan mama hanyalah titik kecil di antara kerumunan orang lanjut usia yang memperebutkan kesembuhan. Setiap hari aku melakukan itu bersama mama.