“Iskandar, lempar bolanya!” salah satu temanku berteriak di tengah lapang.
“Ambil ini!” lemparanku tepat sasaran.
Aku melempar bola itu dengan segala kekuatan ku. Teman-temanku bersorak, berlari mengejar kemenangan.
Begitu sepatuku menapak kokoh di tanah, di tengah bingkai gawang itu, dada ini terasa membusung penuh keberanian.
Aku bangga dengan setiap tetes keringat itu, aku bangga ketika aku berhasil membawa timku melangkah ke turnamen impian.
Namun kali ini Langkah ini terasa begitu berat, seolah sepatu yang kukenakan mendadak terbuat dari baja. Hari ini aku kembali ke sekolah, bukan untuk membuka buku atau mendengarkan pelajaran di kelas.
Aku datang untuk berpamitan.
untuk menyentuh sisa-sisa kenanganku sebelum aku melangkah jauh menuju Jakarta. Kota yang akan menjadi saksi perjuangan baru untuk masa depanku.
Kini, tubuh kuat itu berdiri di sini untuk terakhir kalinya. Menyentuh tiang gawang yang dingin, seolah berpamitan kepada saksi bisu perjuanganku.
“Terimakasih sudah sudah menjadi benteng tempatku berdiri gagah, terimakasih telah membuatku begitu bangganya kepada diriku,” bisikku pelan.
“Iskandar!”
Mereka berlari ke arahku. Wajah-wajah yang penuh keringat dan tawa itu mengepungku dengan pelukan yang menyesakkan dada.
“Is, kamu sudah sehat? Kapan sekolah lagi? Besok kamu ikut turnamen kan?” seru mereka bersautan.