“Ma... jangan lepaskan”
Suaraku pecah, bergetar di udara yang mulai membeku. Saat jemari mama perlahan terlepas dan sosoknya tertinggal di daun pintu, separuh nyawaku ikut melangkah pergi.
“Aku takut....”
Perlahan, genggaman tanganku terlepas dari jemari yang selama ini menjadi sumber kekuatanku. Saat pintu tertutup aku benar-benar merasa sendiri, hanya ada suara monitor dan dingin yang menembus ke tulang.
Dalam kesunyian itu, aku memejamkan mata membangun dunia di mana rasa sakit tidak pernah punya nama.
Dunia yang kubangun dalam lelapku, tak ada lagi aroma obat menusuk hidungku atau getir ramuan herbal yang harus di paksa kutelan. Di sini, aku duduk di meja penuh hidangan. Tidak ada larangan, tak ada tatapan cemas yang membatasi suapanku.
Aku meraih semangkuk mie pedas kesukaanku. Uapnya yang hangat membawa aroma cabai membangkitkan selera. Sesuatu yang selama ini hanya bisa kurindukan dalam diam.
Aku menikmatinya dengan rakus, merasakan setiap sensasi gurih dan pedas yang menari di lidah. Luar biasa lezat... di tempat ini, tubuhku terasa begitu kokoh, aku merasa benar-benar kuat.
Dunia ini begitu sempurna, sebuah pelarian di mana setiap suapan adalah perayaan atas kesehatan yang seutuhnya.
“Iskandar....”
Suara itu lembut, menyusut di antara kelezatan mie pedas.