Tiga bulan lamanya, aku menjelma menjadi seorang petualang kecil di jalur Karawang–Jakarta.
Petualangan kami selalu dimulai dari hangatnya sambutan rumah Tante Tria di Metland Cibitung. Ia adalah sahabat kecil mama, tempat kami mengisi tenaga, menambal keberanian, sebelum perjalanan panjang kembali dimulai.
Saat langit masih berselimut gelap, suara mama selalu lebih dulu terjaga.
“Abang, ayo bangun… kita berangkat sekarang.”
Pagi itu di mulai dengan usapan lembut. Hangatnya tangan mama mampir ke pundakku, mengguncang pelan tubuhku yang masih enggan beranjak dari balik selimut.
Sebelum matahari membuka matanya, kami sudah duduk di Stasiun Metland.
Aku masih mengingat betul rasa takjub itu, bangunan besar, lampu-lampu terang, dan suasana yang terasa begitu modern.
Namun yang paling membuat jantungku bergetar adalah suara kereta KRL: deru mesin, klakson, dan getaran rel saat rangkaian itu melaju masuk ke peron.
Sejak pandangan pertama, aku telah jatuh cinta.
Setiap hari, aku menyaksikan bagaimana kereta bergerak dengan gagahnya. Aku terpaku melihat masinis di balik kaca kabin, duduk tenang, mengemudikan rangkaian panjang dengan penuh kendali. Kelihaian tangannya, tatapannya fokus, seolah ia sedang memimpin perjalanan ratusan kehidupan sekaligus.
Di saat itulah, sesuatu tumbuh diam-diam di dadaku. Perjalanan Karawang–Jakarta bukan lagi sekadar perjalanan berobat, ia menjadi sumber inspirasiku.