Di rumah singgah ini, untuk pertama kalinya aku benar-benar merasa: aku tidak sendiri.
Di antara wajah-wajah yang sama-sama lelah namun berusaha tegar, ada satu sosok yang selalu berhasil membuatku tersenyum, bahkan di hari-hari terberatku.
Kulitnya putih, tubuhnya tinggi, pembawaannya ceria dan ramah. Kepalanya memang tak lagi dihiasi sehelai rambut pun, tapi pesonanya sama sekali tak berkurang. Justru dari sanalah cahaya itu seolah terpancar.
Kak Nadia.
Nama yang cantik, setara dengan senyumannya yang tak pernah absen, senyum yang seperti berkata: aku sakit, tapi aku belum menyerah.
Di bawah atap yang sama, kami saling berbagi cerita. Tentang obat yang rasanya pahit luar biasa, tentang mual yang datang tanpa permisi, tentang jarum suntik yang rasanya selalu “lebih sakit dari kemarin”. Dan juga tentang satu hal yang sama-sama kami miliki: mama.
Orang tua yang setia duduk di samping ranjang, memegang tangan kecil yang menggigil, menyembunyikan tangisnya di balik senyum yang dipaksakan.
Aneh rasanya.
Setiap kali cerita dibagikan, beban itu terasa sedikit lebih ringan. Seperti ada yang ikut memikulnya.
Di tempat ini, aku seperti menemukan keluarga baru.
Dan mamaku, dia adalah “komandan tawa” kami.
Para orang tua yang awalnya datang dengan wajah kusam dan mata sembab, perlahan berubah saat bersama mamaku. Tawanya renyah, candanya selalu tepat sasaran, dan caranya bercerita bisa membuat orang lupa bahwa sebagian besar waktu mereka habis di rumah sakit.
Di ruang TV lantai tiga, mamaku jadi pusat perhatian.
Padahal, berdiri saja ia sudah kesulitan. Untuk bangun dari duduk, ia harus memegangi meja, kursi, apa pun yang cukup berat untuk menyangga tubuhnya.
“Kalo susah berdiri, jangan duduk di lantai, mama Is,” kata seorang ibu sambil terkekeh.
Mama tertawa.
“Sini, mah, aku bantu,” sahut mama yang lain sambil menggenggam tangan mama.
“Eh, jangan satu orang, nanti tumbang barengan,” timpal yang lain.
Mama menepuk pahanya sendiri. “Ini bukan bangun, ini evakuasi.”
Tawa pun pecah.
Tawa yang jujur.