Perjalanan Abadi Sang Masinis Surga

Nurruh Rohmah
Chapter #13

Senandung kehidupan di Balik Perjuangan

“Ayah, ke rumah sakit sekarang, cepat!” Suaraku pecah di ujung telepon. “Mama harus dioperasi sekarang juga!”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berdiri kaku di hadapan pintu putih. Di atasnya, lampu merah menyala, terang dan dingin, sebuah penanda bahwa di balik sana, hidup dan mati sedang ditimbang dengan waktu.

Dadaku sesak. Ketakutan mengalir tanpa suara.

Ya Tuhan, kuatkan mama. Kuatkan bayi di kandungannya.

Doa itu berulang di kepalaku, seperti mantra yang kupaksakan agar tetap bernapas. Jemariku saling mencengkeram hingga memutih.

Ayah datang dengan napas tersengal dan wajah pucat.

“Abang, ada apa dengan mama? Tadi pagi terlihat baik-baik saja.”

Aku menelan ludah.

“Aku tidak tahu, Yah. Tiba-tiba mama minta diantar ke rumah sakit. Tadi tetangga yang membantu. Begitu sampai, dokter bilang harus operasi sekarang juga. Kalau tidak… mama dan bayinya dalam bahaya.”

Ayah terdiam.

“Administrasinya?”

“Mama yang urus sendiri. Aku belum cukup umur,” jawabku lirih.

Ia menunduk. Guratan kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya.

Kami duduk di lorong rumah sakit, dua lelaki, satu doa yang sama. Mata kami terpaku pada pintu putih. Di baliknya, perempuan yang kami cintai sedang bertaruh nyawa.

Lihat selengkapnya