“Dia harus kemoterapi, secepatnya!”
Suara mama melesat menembus celah pintu, menghantam dadaku. Aku terdiam di tempatku berdiri.
Apakah pendengaranku salah?
Atau ucapan mama yang salah?
Tolong... katakan semua ini tidak benar!
Sepasang mata mama yang merah dan sembab langsung mengunci pergerakanku, saat aku melangkah keluar kamar. Tatapan itu menghakimiku dengan kenyataan pahit.
Mama melangkah mendekat perlahan. Ia menurunkan tubuhnya tepat di hadapanku, tatapan kami berada di posisi yang sejajar.
“dengar, sayang...” bisik mama, menggenggam tanganku menatap dalam. “Dokter meminta, pengobatannya di lanjut Kemoterapi.”
Kalimat itu terputus, suara mama bergetar hebat, lalu luluh bersama tangisan yang tak mampu lagi ia bendung. Air mata yang menggenang penuh permohonan, ia berbisik lirih, “Abang... mau, ya?”
“Tapi... kenapa harus kemoterapi?” tanyaku heran.
Ayah yang berdiri di belakang mama dan matanya berkaca-kaca, jemari yang bergetar perlahan menarik selembar kertas di atas meja, lalu meremas pinggirnya dengan erat.
“Hasil MRI menunjukkan satu hal yang sama, belum ada perubahan.."