Perjalanan Abadi Sang Masinis Surga

Nurruh Rohmah
Chapter #15

Masinis Kecil dan Pak Kondektur

Perjuanganku melawan kanker rasanya seperti menyebrangi lautan luas di atas perahu yang bocor. Setiap hari adalah pertarungan sengit, bukan hanya untuk menghela napas, tetapi untuk tetap percaya bahwa fajar yang terang pasti akan tiba.

Ketika tindakan TACE itu selesai, kukira usai sudah badai ini. Namun, takdir berkata lain, aku harus kembali berdiri di garis depan, di titik di mana menyerah sama sekali bukanlah sebuah pilihan.

Sebab ketangguhan tidak dilihat dari seberapa kuat tubuhmu berdiri, melainkan seberapa besar harapan yang kau genggam saat duniamu terasa runtuh.

Di tengah lelahnya raga melawan sel-sel jahat, jiwaku selalu menemukan tempat pelarian: Kereta api. Setiap kali aku duduk di peron stasiun menunggu kereta datang, mataku tak pernah lepas dari sosok-sosok gagah yang melangkah pasti.

Mereka para masinis. Langkah kakinya begitu berwibawa. Di dalam hati, aku selalu berbisik sambil tersenyum.

"Suatu hari nanti, wajahku di masa depan pasti akan segagah itu.

”Melihat mereka adalah terapi baik bagi jiwaku yang sedang rapuh.

Hari itu aku meminta satu hal sebelum kemoterapi dimulai.

Aku ingin berfoto sebagai masinis.

Keinginan itu datang karena kereta selalu terasa seperti dunia lain yang bisa membawaku pergi dari rasa sakit. Seperti membawaku berdiri di sisi yang berbeda, bukan sebagai penumpang yang lemah.

Di stasiun Cikarang, semesta seolah mendengar doaku. Seseorang berdiri di sampingku dengan seragam putih yang sangat gagah. Beliau adalah Pak Septian, seorang konduktor kereta Walahar express, yang senyumannya begitu indah, ramah, dan tulus.

“Namanya siapa?” tanya pak kondektur dengan lembut.

“Iskandar,” jawabku tersenyum.

“Wah, namanya bagus sekali. Mau jadi calon masinis ya?” katanya sambil menatapku.

Aku mengangguk pelan.

Ia tertawa kecil. “Siap foto dulu, kita abadikan impian ini.”

Tangannya menepuk bahuku. Tidak berat, tapi cukup untuk membuatku merasa... diakui.

Lihat selengkapnya