Rumah singgah selalu dingin, tapi pagi ini dinginnya terasa kejam. Bukan sekedar menusuk kulit, ia merayap masuk ke dalam tulang, menetap di sana dan menolak pergi.
Ada sesuatu yang salah, saat aku terbangun dan napasku terputus-putus.
Bukan rasa sakit biasa.
Tubuh kecilku terasa asing, seperti bukan milikku lagi.
Aku mencoba mencari sumbernya. Kepala, dada, perut, punggung. Tapi, tidak ada satu titik pun yang bisa kutunjuk. Rasa sakit itu tidak memiliki tempat, ia menyerangnya sekaligus serentak secara brutal.
Seperti ribuan tangan yang kasat mata meremas tubuhku dari dalam.
Aku ingin bergerak.
Ingin sekedar mengembalikan badan. Tapi, tubuh ini menolak.
Tenggorokanku kering, seperti terbakar. Haus yang menyiksa memaksaku bangun tempat tidur walaupun berat sekuat batu.
"Ma... mama," suaraku keluar nyaris tak berbunyi, seperti sunyinya kamar ini.
Tak ada jawaban.
Pandangan kaburku menangkap sebuah botol air di atas nakas. Harapan kecil menyala. Dengan sisa tenaga kecil yang seberapa, aku memaksakan tubuhku duduk.
Tanganku gemetar hebat saat meraih botol itu. Dan sakit yang tak pernah ku kenal sebelumnya meledak.
"Nggghhh...." aku merintih kesakitan, jemariku yang gemetar berjuang keras menggapai botol air itu.
Bukan nyeri, ini kehancuran, seolah seluruh tulang ku diremukan sekaligus.
Prang!
Botol itu lolos dari ujung jariku dan jatuh ke lantai, berguling menjauh.
"Iskandar?!" Teriak mama.
Pintu terbuka keras. Mama menerobos masuk dengan dahi mengkerut saat melihatku terkulai tak berdaya di atas kasur.
"Kamu kenapa, sayang ?!" Isak ketakutan mulai terdengar dari suaranya yang gemetar.
Air mataku pecah, mengalir melewati pipiku yang terasa panas. "Aku... haus, Ma... tapi badanku... nggghh... s-sakit semua..." Kalimat itu terputus. Tangisku yang menyakitkan langsung mengambil alih, menyisakan napas yang tersengal-sengal di dada.
Mama tak bertanya lagi, ia segera mengambil botol itu, dan duduk disamping ranjang lalu memelukku dari belakang. Tubuhku yang lemah bersandar sepenuhnya ke pundak mama.
Hangatnya tubuh mama dan pelukannya adalah satu-satunya hal yang terasa nyaman di tengah badai ini.
“Minum sedikit ya… pelan-pelan…” bisiknya sambil mengusap kepalaku. Suaranya berusaha tenang, tapi aku bisa merasakan ketakutannya.
“Aku cari Mama…” ucapku serak. “Mama nggak ada…”