Sejak kemoterapi mengenalkanku pada rasa sakit, hidupku tidak lagi berjalan lurus. Hari-hari menjelma menjadi kepingan waktu yang tak menentu; berliku, tajam, dan penuh ranjau nyeri.
Hidupku yang dulu adalah lintasan pacu yang bebas, kini terasa seperti gerbong yang tergelincir dari relnya.
Sakit itu datang tanpa permisi, mencengkeram tanpa peringatan, dan tak lekas ingin pergi, selalu datang kembali dengan siksaan yang sama
Kini, aku dan kursi roda telah bersahabat karib. Bukan karena aku ingin, tetapi tubuh ini memaksaku untuk berhenti saat jiwaku justru sedang ingin melangkah jauh.
Aku sangat rindu berjalan dengan normal.
Namun, setiap kali aku mencoba melangkah, tubuhku menghadiahi rasa nyeri yang luar biasa, seolah-olah dunia runtuh, meremukkan pinggang hingga ke seluruh tubuhku.
Lalu, di tengah puing-puing keputusasaan, datanglah sebuah keajaiban kecil yang menciptakan harapan besar:
Sebuah Buku catatan dari sebuah organisasi bernama"Make-A-Wish® Indonesia"
Organisasi ini memiliki program utama mewujudkan impian terbesar anak2 sepertiku, demi menghadirkan harapan, kekuatan, dan kegembiraan bagi anak-anak yang sedang berjuang melawan penyakitnya.
Buku "Make-A-Wish® Indonesia" ini adalah sebuah lembaran yang disiapkan khusus untuk menampung mimpi.
Di sanalah anak-anak boleh menuliskan keinginan, menggambar cita-cita mereka, dan menuangkan harapan tanpa takut salah atau dihakimi.
Di dalam buku itu, aku bukan lagi seorang pasien. Aku bukan lagi tubuh ringkih yang lemah. Aku adalah aku. Iskandar, yang bebas bermimpi tanpa batas.
Di halaman pertama, aku mulai menggambar seorang masinis dan kereta api. Gambar itu bukan sekadar coretan; ia adalah simbol harapan yang melaju kencang, sebuah janji perjalanan yang tak akan pernah bisa dihentikan oleh penyakit ini.
Di halaman berikutnya, kuberi jiwa pada seragam masinis yang sangat kuimpikan. Setiap garis pensil adalah doa yang tak terucap, dan setiap sapuan warna adalah air mata tersembunyi yang kuubah menjadi tujuan hidup.