Perjalanan Abadi Sang Masinis Surga

Nurruh Rohmah
Chapter #19

Ketika Tubuh Bukan Milikku Lagi

"Mau diapakan aku?!" tanyaku, terdengar lancang karena didorong rasa takut yang memuncak.

"Suster ijin ya, Iskandar harus pasang NGT," bujuk suster, nadanya berusaha selembut mungkin namun terasa seperti ancaman bagiku.

Aku langsung menoleh ke arah Mama dan Ayah yang berdiri di samping ranjang. "Aku enggak mau! Jangan paksa aku!" teriakku.

Kulihat air mata Mama mulai luruh, tapi ketakutanku jauh lebih besar dari rasa bersalahku. "Aku enggak bisa, Ma! Kali ini aku enggak mau! Jangan paksa!" Teriakanku semakin kencang, menggema di langit-langit kamar yang putih pucat.

Namun, apalah dayaku. Tubuh ringkih ini tidak punya cukup tenaga untuk berontak saat tangan-tangan dewasa itu mulai memegangiku dan memaksakan kehendak mereka. Di tengah jeritan dan tangis yang pecah sekencang-kencangnya, hatiku menjerit pedih: Kenapa kalian tega memutuskan segala hal atas tubuhku yang lemah ini?

Tubuhku mulai merintih. Ini bukan lagi sekedar rasa sakit yang biasa berkunjung, melainkan tatapan pilu dari setiap sel yang telah mencapai batas kelelahan yang tertinggi. Rasa nyeri itu, yang dulu datang dan pergi seperti badai musiman, kini telah menetap, membangun kerajaan kegelapannya sendiri di dalam diriku.

Malam itu, jeritan sunyi dari dalam tubuhku terdengar keras, sampai aku harus berbaring di ranjang dingin dan menyakitkan.

"Ma... sakit," bisikku lirih, mencengkam seprei rumah sakit.

Suaraku tercekat di tenggorokan, tersumbat oleh rasa sesak yang teramat sangat, sebelum akhirnya pecah menjadi jeritan yang pilu menyayat kesunyian.

Pertahanan yang kubangun runtuh seketika. Rasa sakit yang tak tertahan itu menghantam tanpa ampun, memaksa tangisan yang sejak tadi ku tahan meledak begitu saja.

Air mata mengalir deras tanpa kendali, hangat namun terasa sangat menyiksa, mengalir melewati pipi membasahi bantal di bawah kepalaku.

"Tenang ya sayang, rasa sakit ini akan segera hilang," bisiknya lembut, tepat di telingaku. Tangan hangatnya membingkain wajahku, menghapus sisa air mata di pipi. "Dokter akan memberikan obat. Semua akan baik-baik saja."

"Tapi, sakit sekali ma!" Tangisku pecah, tak sanggup lagi membendung sesak.

Ia menggenggam jemariku, mengusapnya perlahan untuk mengusir rasa sakit. "Mama yakin kamu kuat. Sabar ya, sayang... mama di sini."

Di tempat ini, aku bukan lagi seorang anak. Aku berubah menjadi boneka yang sedang dirakit. Tubuhku di dera serangkaian yang padat dan tanpa jeda.

Setiap hari diisi oleh tusukan jarum yang dingin, suara dari alat-alat medis yang asing, serta sentuhan tanpa rasa dari tangan-tangan ya g tak ku kenal. Mereka memeriksa, mengukur, dan memutuskan segala hal tentang diriku seolah-olah tubuh ini bukan lagi milikku.

Tubuhku kini penuh alat-alat asing medis yang menempel di kulitku, terasa seperti parasit yang menghisap kehidupan, perlahan menghabiskan sisa-sisa diriku.

Lihat selengkapnya