Pagi yang tenang itu mendadak buyar ketika terdengar suara gaduh dari arah kamar. Suara benda-benda berjatuhan terdengar berisik sekali. Ayah yang sedang menemaniku di ruang tengah langsung sigap mendorong kursi roda menuju sumber suara.
Begitu pintu terbuka, aku tertegun.
Mama terlihat panik, dan napasnya memburu. Semua barang dari dalam lemari baju dan laci nakas dikeluarkan paksa, berserakan begitu saja di atas lantai. Baju-baju yang biasanya rapi, sekarang sudah seperti kapal pecah.
"Ada apa, ma?" Kenapa semuanya berantakan gini?" Tanyaku heran, dahiku menyerengit menatap sekeliling kamar yang sudah berantakan.
Tapi mama sama sekali enggan menjawab. Sepasang tangannya terus membongkar tumpukan kertas dan kain dengan gerakan terburu-buru. Ayah yang sejak tadi memegangi kemudi kursi rodaku melangkah mendekat, memposisikan diriku di tempat yang nyaman dari serakan barang.
"Kamu lagi cari apa sih, ma?" Tanya ayah lembut.
Mama menghentikan gerakannya sejenak, suaranya tersengal, "Buku impian itu hilang... entah kemana. Mama sudah cari di mana-mana tapi tidak ada."
"Apa?!" Aku menjerit kecil. Jantungku rasanya mencelos mendengar kata 'buku impian'. Buku yang sangat berarti untukku hilang.
"Kenapa bisa hilang, ma? Bukannya selalu di simpan di tempat aman?"
Mama menyeka keringat dingin di dahinya dengan punggung tangan yang lelah.
Melihat situasi yang makin kalut dan mataku yang mulai berkaca-kaca, ayah langsung mengambil situasi. Tangannya mengelus pundak mama dengan lembut, mencoba mencairkan suasana yang mencekam.
"Ya sudah, jangan panik dulu. Kita cari sama-sama lagi, ya. Mungkin cuma keselip di tempat lain."
Aku menggambar keinginanku di buku itu dengan susah payah, berjuang memeras sisa tenaga di tengah lilitan rasa nyeri.
Dan kini, buku itu lenyap.
Apakah mimpiku juga akan benar-benar menghilang?
"Kalau buku itu tidak ketemu..." suaraku tercekat di tenggorokan. Aku menunduk dalam-dalam, membiarkan air mata menetes jatuh kepangkuanku. "Aku nggak mau nulis lagi," bisikku lirih, nyaris tak terdengar.
Kalimat itu meluncur begitu saja, membawa seluruh rasa putus asa. Tanpa buku impian itu, jemariku rasanya lumpuh. Keinginanku untuk menggambar mendadak lenyap, berganti dengan rasa hampa yang teramat sangat. Kamar yang berantakan itu seketika menjadi sunyi senyap, menyaksikan suara Isak tangisku yang pelan.
Aku tidak lagi ingin bermimpi. Biarkan saja cita-citaku terkubur dalam-dalam bersama derita ini.
Mama mendekat padaku, lalu menunduk dihadapanku. Diusapnya rambutku dengan tangan yang lembu, sementara matanya menatap penuh penyesalan. "Nanti mama minta lagi ya bukunya, kita gambar lagi dari awal," bisik mama lembut, mencoba menghiburku.