Perjalanan Abadi Sang Masinis Surga

Nurruh Rohmah
Chapter #21

Dibalik Mahkota yang Luruh, Ada Jiwa yang Kuat

Lirih dengung mesin pencukur sore itu terdengar seperti sebuah melodi perpisahan yang memilukan. Rambut ini... ia yang telah dengan setia menemaniku, tumbuh bersama di setiap langkah dan ceritaku selama 12 tahun lamanya.

Kini, dia telah pergi.

Meninggalkan ruang kosong yang asing, dan membawa pergi sepotong kenangan yang takkan pernah kembali sama lagi.

Di dalam kamar mandi kecil ini, suasana terasa begitu hening dan berat. Mama yang berdiri di balik pintu hanya bisa terdiam. Menyaksikan helai demi helai rambutku jatuh ke lantai, semuanya benar-benar pergi, terputus oleh pencukur rambut di tangan ayah.

Ku genggam erat beberapa helai rambut yang jatuh ke tanganku. Sambil memejamkan mata, aku menahan sesak di dada dan berbisik lirih.

"Terima kasih, rambut. Kau telah menemaniku dalam suka maupun duka, maafkan aku harus melepasmu sekarang. Kamu tidak hilang, kamu hanya sedang pulang untuk mempersiapkan jalan bagi helai yang lain untuk lebih kuat."

Ketika mesin itu mati, keheningan langsung menyergap ruangan, aku menatap lurus ke pantulan cermin. Kepalaku kini sepenuhnya pelontos.

Perlahan ayah meletakan mesin cukur itu, lalu menaruh kedua tangannya di pundakku, meremasnya pelan. "Anak ayah... tetap tampan."

Aku tersenyum kecil. Melalui pantulan cermin, aku melirik ke arah mama. Ah mama... tidak bisa berbohong, meski ia berusaha keras untuk tegar dan memaksakan senyum, setetes air mata lolos begitu saja, membasahi pipinya. Dengan cepat, mama menyekanya menggunakan ujung jilbab. Ia begitu takut melihat aku sedih.

"Ma, lihat deh," kataku sambil meraba kepalaku yang licin, mencoba mencairkan udara yang terasa begitu pekat.

"Ternyata bentuk kepalaku bagus juga. Aku tetap tampan, kan?"

Mendengar candaanku mama mendekat dan memelukku dengan sangat erat, menumpahkan air mata yang sejak tadi di tahan.

Lihat selengkapnya