"Hi Iskandar sayang, selamat! Keinginanmu akan segera terwujud."
Kalimat itu bergaung di kepalaku, di baca langsung dari sepucuk surat berwarna biru yang kini bergetar di jemariku. Biru yang lembut, selembut harapan yang tiba-tiba membumbung tinggi.
Tepat di bawah kertas itu, sebuah gambar bintang tertera. Sederhana, namun entah mengapa rasanya seolah ia sedang menyala dan berpijar khusus untukku, menyiram seisi dadaku dengan kehangatan yang sudah lama tak aku rasakan.
Aku membaca lagi kata-kata setelahnya.
"Tanda mata ini adalah simbol janji, kami akan mewujudkan keinginanmu."
Aku mengelusnya dengan jariku, untuk lebih memastikan lagi bahwa ini benar-benar terjadi, seolah berkata: ini nyata, ini bukan mimpi.
Sebuah tanda mata terbuat dari gambar bintang dan koin perak, dengan nama Make-A-Wish® Indonesia terukir di atasnya.
Aku terus membaca suratnya, dan tanpa sadar aku membayangkan keinginku sudah tercapai. Padahal semua itu belum terjadi. Tapi, hatiku sudah berlari lebih dulu.
Aku membalikan tubuhku, menoleh ke arah mama yang duduk terdiam tak jauh dariku. Kutatap wajahnya, lalu kupandangi surat biru itu di tanganku. Langkahku mantap mendekatinya, aku memberikan surat itu untuknya.
Kusodorkan kertas itu dengan segenap asa. Berharap dengan sangat deretan kalimat hangat dan bintang yang berpijar di dalamnya bisa menjadi lentera.
"Lihat, ma... aku dapat surat dari Make-A-Wish® Indonesia," seruku penuh kebanggaan saat menyodorkan surat itu.
Mama membacanya pelan, lalu perlahan sudut bibirnya terangkat. Sebuah senyuman yang sarat akan keyakinan bahwa harapan-harapan besarku memang akan segera terwujud.
Di balik binar matanya yang redup, aku seperti melihat kembali sepercik jiwanya yang sempat tersesat dan hilang kini telah kembali.
"Selamat ya, sayang. Mama yakin harapanmu akan segera terwujud," suaranya yang tenang dan senyumannya yang membuatku merasa aku di sayangi.
Bersamaan dengan kalimat itu, tangan lembutnya mendarat di kepalaku yang kini pelontos tanpa sehelai rambut. Sentuhan hangat yang seketika meruntuhkan semua rasa takutku, menggantinya dengan kekuatan baru untuk terus berjuang.
Sejak hari itu surat ini selalu ku simpan di atas nakas.