Akhir tahun 2024 datang membawa kado yang paling indah.
Profokol kemoterapi pertamaku dengan 4 siklus resmi SELESAI!
Walaupun aku harus tetap menunggu hasil apakah kemoterapi merespon terhadap kanker ku atau tidak, tapi setidaknya ini adalah jeda bernapas sedikit lega.
Pulang!
Aku sudah rindu tempat tidurku sendiri, rindu memeluk adik-adikku lagi.
Perjalanan pulang kami kali ini sangat mengesankan. Semua bermula di Stasiun Tanah Abang.
Ayah berjalan paling depan dengan percaya diri. Tatapannya tajam menyapu setiap papan petunjuk, persis seperti kapten kapal yang hapal lautan.
"Ayo, cepat! Kereta kita ada di peron 2!" Katanya mantap.
Mama langsung berhenti. "Peron 3, yah," katanya membantah.
"Peron 2!"
"Peron 3!"
"Peron 2!"
"Peron 3!"
"Percaya sama aku." Ayah meninggikan sedikit nadanya dengan yakin.
Aku yang berdiri di tengah-tengah mereka hanya bisa menengok ke kanan dan ke kiri, seperti orang yang sedang menonton pertandingan buku tangkis.
Mama menoleh ke arahku, alis matanya menyerengit, "Abang, emang iya kereta menuju Cikarang di peron 2?"
Kepalaku mendongak ke atas, "kalau seinget aku sih... di peron 3 mah."
"Nah, itu dia. 'Seinget' berarti tidak yakin," nada ayah semangat penuh keyakinan, "Kali ini ayah yakin, ayah tidak salah. Kereta kita ada di peron 2."
Kata ayah penuh keyakinan, sampai-sampai aku percaya.
Akhirnya kami naik ke kereta yang di pilih ayah. Belum 5 menit kereta melaju, terdengar suara dari pengeras suara.
"Stasiun berikutnya, Stasiun Duri... Nex Station Duri." Aku dan mama perlahan menoleh dan menatap seolah sedang meledek ayah.
"Tuh, kan... salah," kata mama pelan.
Ayah pura-pura sibuk melihat ke arah jendela, seolah pemandangan rel jauh lebih menarik dari pada dua pasang mata yang sedang menghakiminya.
"Ayah..." Ledek mama.