PULANG
Adalah hadiah paling indah di awal tahun 2025 ini. Kepulanganku ke rumah menjadi sebuah perayaan kecil.
Satu per satu, teman-temanku datang silih berganti memenuhi rumah. Wajah-wajah yang selama berbulan-bulan ini hanya bisa kubayangkan dalam mimpi, kini berdiri nyata di hadapanku. Begitu melangkah masuk, mereka langsung bersorak antusias:
Teman-teman: “Iskandarrr!”
Namun, sorakan itu perlahan mereda. Tatapan mereka serempak berhenti di kepalaku yang kini licin tanpa sehelai rambut.
“Kenapa pada bengong? Aku sekarang kayak tuyul ya? Hehehe...” tanyaku.
Iqbal sambil menepuk pundakku, “Gak kok, Iskandar! Kamu tetap ganteng, asli! Yang penting kan sekarang kamu sehat, ya?”
“Iya, pengobatanku sudah selesai!” Aku tersenyum bangga.
Aisyah bertanya dengan sangat antusias. “Wah, berarti kamu sudah sembuh total, Is?”
Aku menggeleng...
“Belum tahu pasti, aku masih harus terus berobat di Jakarta. Tapi, karena aku sudah kangen banget sama rumah dan kangen sama kalian semua, jadi aku diizinkan pulang dulu.”
“Semangat terus ya, Iskandar! Pokoknya kami semua di sini selalu nungguin kamu pulang lagi!” Rian berseru penuh semangat.
“Terima kasih banyak ya, teman-teman...”
Menjelang senja, teman-temanku berhamburan ke halaman. Bola mulai ditendang ke sana kemari. Teriakan, tawa, dan canda mereka berpadu dengan cahaya matahari yang perlahan tenggelam.
Aku hanya bisa memandang dari teras.
Tanganku meremas pelan ujung baju.
Aku merasakan rindu yang begitu dalam.
Rindu berlari tanpa napas yang tersengal.
Rindu mengejar bola tanpa khawatir selang CVC di dadaku tertarik atau terlepas.
Rindu menjadi anak-anak... seperti dulu.
Aku memandangi mereka hingga bola itu sesekali menggelinding ke arah kakiku. Ingin rasanya aku bangkit, menendangnya sekuat tenaga, lalu berlari mengejar teman-temanku.
Namun kakiku tetap diam.
Yang berlari hanyalah anganku.
Aku menengadah ke langit yang mulai berubah jingga.
"Ya Allah..."
"Sembuhkan aku secepatnya."
"Aku ingin kembali ke lapangan itu."
"Bukan sebagai penonton..."
"Tetapi sebagai pemain."
Sisa hari-hari di rumah menjadi hadiah terindah sebelum aku kembali ke Jakarta.