Perjalanan Abadi Sang Masinis Surga

Nurruh Rohmah
Chapter #33

Ramadhan dan Lebaran Terbaik di Rumah

"Abang, sahur yuk..."

Suara lembut Ayah terdengar tenang sekali, membangunkan aku di kesunyian subuh. Begitu membuka mata, wah... hal pertama yang tercium bukan lagi bau obat rumah sakit yang menyengat, melainkan aroma masakan Mama yang super lezat!

Aku menggeliat pelan sambil tersenyum lebar. Rasanya nyaman sekali bisa tidur lagi di atas kasur empuk kamarku sendiri kasur kesayangan yang sudah lama sekali kurindukan.

Aku berjalan santai menuju dapur. Di sana, pemandangan yang dulu cuma bisa kubayangkan sambil melamun di ranjang rumah sakit, sekarang beneran ada di depan mata!

Mama sedang sibuk menyiapkan makanan yang hangat, sementara Ayah dengan telaten menuangkan teh manis yang asapnya mengepul tipis. Di dekat mereka, ada adekku, Najwa, yang lagi sibuk mengucek mata menahan kantuk, dan si kecil Khairan yang masih asyik tidur pulas di sudut kasur tengah.

Di rumah kami tidak ada barang-barang mewah. Cuma ada meja makan kayu yang kecil dan lauk pauk yang sederhana. Tapi buatku, momen kumpul seperti inilah kemewahan paling luar biasa yang paling aku inginkan sejak sakit dulu. Rumah ini terasa hangat banget, penuh dengan wangi masakan dan tawa kecil kami sekeluarga.

Asiknya bisa bebas bergerak.

Ramadhan tahun ini rasanya seru dan beda banget! Sekarang aku punya kebebasan penuh buat bernapas lega dan berani bergerak ke sana kemari tanpa perlu takut ada selang-selang medis yang terlepas dari tubuhku.

Bahkan, ada tugas baru yang bikin hatiku bergetar saking senangnya. Waktu Ayah pergi bekerja, Mama dengan lembut memintaku untuk menjadi imam salat jamaah di rumah.

Wah... rasanya haru sekaligus bangga sekali! Aku bisa berdiri tegak, melipat tangan dengan rapi, dan bersujud di atas sajadah rumah sendiri sambil memimpin doa untuk orang-orang yang paling aku cintai.

Hari-hariku sekarang jauh dari kata bosan. Di sela-sela waktu luang, aku sering duduk di lantai menemani Najwa mengerjakan PR sekolahnya, atau memegangi tangan mungil Khairan sambil menuntunnya belajar berjalan selangkah demi selangkah. Setiap detiknya berjalan sederhana, tapi rasanya berharga banget!

Berburu takjil sore

Nah, sore hari adalah waktu yang paling aku tunggu-tunggu! Aku sudah bisa melangkah bebas keluar rumah tanpa perlu duduk di kursi roda lagi. Aku berjalan santai keliling kampung buat berburu takjil berbuka puasa.

Kulitku bisa merasakan langsung sejuknya angin sore yang sepoi-sepoi, dan hidungku dimanjakan sama aroma gorengan hangat serta es buah segar yang ramai di pinggir jalan. Aku berdiri di sana, mengantre di antara kerumunan orang-orang dengan hati yang gembira, sambil menunggu suara azan magrib berkumandang.

Mungkin bagi anak-anak lain, jalan-jalan sore, beli takjil, atau salat berjamaah di rumah adalah hal yang biasa saja. Tapi bagiku yang sempat "terkurung" lama di balik dinding putih rumah sakit, semua kesederhanaan ini adalah hadiah dan kenikmatan yang sungguh luar biasa dari Allah. Aku sudah pulang, aku sudah bebas,

Lebaran telah tiba!

Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Walillahilham.

suara takbir sudah bersahut-sahutan di luar! Seru sekali dengarnya. Suasana di komplek rumah menjadi ramai, dan itu tandanya hari kemenangan yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Selamat Lebaran!

Lihat selengkapnya