Dua minggu berlalu begitu cepat.
Rasanya baru kemarin aku pulang, menghirup aroma rumah, bermain bersama Najwa dan Khairan, lalu tertawa sepuasnya dengan teman-teman. Kini koper itu kembali berdiri di depan pintu. Jadwal pemeriksaan MRI di Jakarta sudah menunggu.
Aku memeluk Khairan dan mengusap pelan kepala Najwa.
“Sabar ya, Dek. Abang pergi sebentar.”
Khairan menatapku tanpa berkata apa-apa. Tatapannya membuat langkahku terasa lebih berat.
Namun aku tahu, perjalanan ini harus kembali kulanjutkan. Setiap kereta yang membawaku ke Jakarta juga membawaku selangkah lebih dekat menuju kesembuhan.
Di tengah perjalanan itu, ada satu hal yang selalu kutunggu.
Notifikasi siaran langsung Kak Jevi.
Setiap kali wajahnya muncul di layar ponsel, rasa lelahku seperti berkurang. Cerita-ceritanya tentang kereta, senyumnya, dan semangat yang selalu ia berikan membuat perjalanan menuju rumah sakit terasa tidak sesunyi biasanya.
Mungkin kami hanya saling mengenal dari balik layar.
Tetapi bagiku, kehadiran Kak Jevi selalu mengingatkanku bahwa di luar sana masih banyak orang yang percaya aku akan sembuh.
Doa yang Melangit di Atas Kereta
Aku masih ingat betul momen indah saat diundang bergabung dalam live streaming-nya di tengah perjalanan menuju Jakarta:
"Hai Iskandar, bagaimana keadaannya?" tanya Kak Jevi dengan ramah.
"Aku sehat, Kak!" jawabku penuh semangat.
"Wah, sehat selalu ya! Sekarang lagi di kereta?"
"Iya Kak, aku mau ke Jakarta lagi."
"Semangat ya, Iskandar! Kakak yakin kamu pasti sembuh, karena kamu adalah anak yang hebat," ucapnya langsung di hadapan ribuan penonton.
Kak Jevi kemudian mengajak semua orang yang menonton untuk melangitkan doa bersama:
"Hai teman-teman yang sedang menonton, yuk kita doakan Iskandar. Semoga dia cepat sembuh dan selalu semangat... Tuh, Iskandar, banyak sekali yang mendoakan kamu!"
“Terima kasih Kakak-Kakak semuanya!" seruku saat itu, dengan dada yang membuncah penuh rasa syukur.