Perjalanan Abadi Sang Masinis Surga

Nurruh Rohmah
Chapter #35

Jangan Bangunkan Bahagia Ini

Mataku mengedip cepat, di mana ini? tempat ini indah sekali!

Kakiku berdiri dengan sangat kokoh di atas hamparan rumput yang begitu hijau dan sejuk. Rasanya sedikit mengejutkan, karena sedetik yang lalu aku seolah berada di tempat lain, tapi di sini…

Semuanya terasa sangat asing tapi menyenangkan. Sentuhan embun pagi di kakiku seperti bisikan lembut yang menyapa, “Selamat datang.”

Aku melihat ke bawah, perlahan lalu ke depan.

Wah, aku sedang berdiri tepat di tengah-tengah gawang yang megah! Di kedua tanganku sudah terpasang sarung tangan kiper yang tebal. Dadaku tidak terasa sesak sama sekali, malah ada rasa ringan yang begitu luas, seolah seluruh beban di dunia ini tiba-tiba terbang ditiup angin sepoi-sepoi yang sedari tadi membelai pipiku.

Langit di atas sana biru bersih tanpa noda, seperti sebuah senyuman besar yang belum pernah mengenal rasa sakit atau air mata.

Wuuush!

Tiba-tiba, sebuah bola meluncur dengan sangat cepat ke arahku. Jantungku berdesir kaget, bukan karena takut, melainkan karena bersemangat. Tanpa ragu, aku melompat sekuat tenaga. Tanganku terulur lurus menantang angin.

Plaak!!!

Bola itu berhasil kutangkap.

Aku menangkapnya tanpa terjatuh.

Aku benar-benar kuat.

Untuk pertama kalinya setelah lama sekali, aku merasa tubuhku tidak sakit. Tidak rapuh. Tidak kalah.

Aku berdiri lagi, melempar bola yang jauh.

Aku adalah kiper!

Aku bisa berlari.

Aku bisa melompat.

Aku bisa menangkap semuanya!

Aku mulai percaya sesuatu yang sangat dalam di hatiku.

Keputusanku ternyata benar-benar memihakku. Karena sekarang aku bisa berada di sini. Di dunia yang selama ini hanya bisa aku lihat dari jauh.

Namun di tengah permainan itu, suara samar mulai muncul.

“Iskandar…”

Aku menoleh, ada suara tapi tak terlihat orangnya.

“Iskandar... pulang, Nak.”

Suara itu terdengar lagi, dan bahkan ini lebih jelas.

“Tunggu dulu…” bisikku, memeluk bola erat-erat ke dadaku.

Aku tidak mau pergi. Kakiku baru saja terasa begitu kokoh di atas rumput ini. Tubuhku baru saja terasa kuat, tidak lagi ringkih dari rasa sakit itu. Aku baru saja menjadi seorang kiper yang hebat!

Namun, suara itu semakin jelas, menembus langit biru yang sekarang mulai retak dan hancur seperti lembaran kertas yang terbakar kelabu.

“Iskandar, bangun Nak…”

Itu suara mama. Suara yang selalu terdengar lelah, suara yang bergetar menahan tangis setiap kali menemaniku melewati malam-malam penuh rasa sakit. Suara yang sangat aku sayangi, tapi sekaligus suara yang menarikku kembali ke realitas yang melelahkan.

Lapangan hijau di bawah kakiku berguncang hebat. Warna hijaunya yang segar perlahan memudar, tersapu oleh warna putih pucat yang sangat aku kenal. Angin sejuk yang menenangkan tadi berganti menjadi aroma obat-obatan yang menusuk hidung.

“Jangan sekarang, ma... sebentar lagi saja,” pintaku dalam hati, air mataku mulai merebak. Aku ingin bertahan di sini, di dunia tempat aku bisa berlari dan melompat tanpa rasa sakit.

Namun, kegelapan dan cahaya putih rumah sakit mulai berebut tempat. Tarikan itu begitu kuat, memaksaku mengucapkan selamat tinggal pada lapangan indah yang mulai runtuh, membawa jiwaku kembali ke dalam tubuh yang lemah dan lelah.

“Tidaaakkkk, jangan pergi... jangan tinggalkan aku...”

Hatiku menjerit pasrah, memohon pada kedamaian yang baru saja menyentuhku. Namun, tarikan dari dunia nyata ternyata belum sepenuhnya melepaskanku. Rasa sakit yang teramat sangat tiba-tiba menghantam dadaku kembali, seperti sebuah jangkar yang dipaksa masuk, menyeretku jatuh dari indahnya lapangan hijau itu.

Mataku perlahan terbuka.

Suara sirene memekakkan telinga.

Tubuhku berguncang mengikuti laju ambulans yang melesat membelah jalan.

Aku tidak lagi berada di lapangan.

Aku terbaring di atas tandu sempit.

Selang oksigen menutup hidungku. Infus menusuk punggung tanganku. Kabel-kabel monitor menempel di dadaku. Di samping kepalaku, mesin terus berbunyi cepat, seolah ikut menghitung setiap tarikan napasku.

Lihat selengkapnya