Mataku kembali terbuka. Aku tersentak, terbangun dari tidur panjang yang penuh penantian akan hadirnya Kak Jevi Santosa.
Aku terlempar kembali ke dalam ruangan yang menyiksaku ini. Bunyi monitor jantung terus terdengar pelan di sampingku, seolah sedang menghitung setiap napas yang masih dipinjamkan Tuhan.
Dadaku terasa semakin berat. Setiap tarikan napas harus kuusahakan sekuat tenaga.
Di sisi kiriku ada Mama, dan di sisi kananku ada Ayah. Mereka berdiri di sana,
Menjadi alasan terakhir mengapa aku masih sudi bertahan dalam tubuh yang remuk ini.
Mama mencoba tegar, meski suaranya langsung pecah berantakan.
"Sayang... maafkan Mama... maafkan Ayah..." Uapnya di sela tangis yang tak terbendung.
"Ma... ternyata... tempat itu benar-benar indah."
Mama mencoba tersenyum, meski air matanya terus mengalir.
"Aku bisa jadi masinis..."
"Aku bisa main bola lagi..."
"Aku bisa lari..."
Kalimatku terputus-putus.
Namun Mama mengerti.
“Kalau Abang merasa bahagia di sana... dan lebih memilih di sana... Mama dan Ayah ikhlas, Nak...”
Kalimat itu membuat dadaku terasa ringan.
Aku tahu...
Mengucapkan kata ikhlas jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan itu sendiri.
Ayah menggenggam tanganku lebih erat, “Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, Nak.”
Aku menoleh kepadanya.
Justru akulah yang ingin berterima kasih.
Terima kasih karena telah memperjuangkanku sampai sejauh ini.