Perjalanan Dinas

Nadya Wijanarko
Chapter #10

9 - BANDUNG: Dimulai dari Sini

10 Maret 2015


Christie berjalan turun dari tangga menuju lobi. Penampilannya sudah rapi dengan kemeja putih dan celana hitam–sama seperti kemarin. Tangan kanannya memanggul tas cangklong, sedangkan tangan kirinya menenteng tas plastik dari toko semalam. 

Lobi masih tampak sepi. Maklum, masih beberapa menit sebelum pukul tujuh, soalnya. Masih terlalu pagi mengingat jam kerja baru dimulai pukul delapan. Itu pun mungkin masih banyak yang datang terlambat. Meski demikian, seseorang sudah duduk di sofa ruang tunggu. Kehadirannya tentu saja mencolok karena ia adalah satu-satunya yang berada sana.

“Aku bayar dulu, ya?” Gya, yang berjalan di belakang Christie, mencolek dan menuju loket. Gya juga sudah rapi. Penampilannya sama dengan kemarin, juga dengan kemeja putih, celana hitam, dan sweater abu-abu yang melapisi kemejanya.

Christie menoleh, lalu mengangguk. Ia kemudian berjalan menuju ruang tunggu dan menghampiri orang yang sedari tadi duduk. Orang itu memegang sebuah buku yang begitu serius dibacanya; buku bersampul anak laki-laki yang duduk termenung dengan latar belakang reruntuhan gedung seperti habis terkena bom. Dan sepertinya anak laki-laki dalam sampul buku itu memang bernasib malang harus kehilangan tempat tinggal, mungkin juga keluarganya. Setidaknya, itulah yang terbayang jika melihat judul buku yang tertulis di sampulnya: “JALUR GAZA: TANAH TERJANJI, INTIFADA, DAN PEMBERSIHAN ETNIS”.

Fitra sepertinya terlalu hanyut “masuk” ke dalam buku. Ia bahkan tidak menyadari kehadiran Christie yang sudah berdiri di depannya.

Christie sendiri hanya berdiri sambil menatap Fitra. Bibirnya menyungging senyum tipis. Diam-diam ia merasa kagum. Ternyata masih ada orang yang tetap mempertahankan idealismenya meski sudah meninggalkan jauh dunia aktivis bertahun-tahun lalu.

“Eh, Fitra. Dari jam berapa?” Gya tahu-tahu di belakang Christie. Rupanya ia sudah menyelesaikan pembayaran di loket.

Fitra menengadah. Ia segera menutup bukunya dan berdiri. “Belum lama, kok.” Ia tersenyum. Kemudian melirik Christie sekilas. Ada sedikit rasa canggung juga.

Christie balas tersenyum. Matanya masih menatap Fitra. Hari ini, Fitra mengenakan jilbab berwarna biru terang, berpadu dengan jaket olahraga dengan resleting separuh dari dada ke atas yang ditutup rapat. Corak jaketnya terdiri dari dua warna: putih di bagian atas dan biru di bagian bawah. Senada dengan warna jilbab yang diulurkan menutupi dada. Tampak pula kaos abu-abu yang dipakai di balik jaket, terlihat menyembul di bagian bawah jaketnya yang berukuran pas di badan, juga sedikit terlihat di pergelangan tangan. Udara Bandung memang dingin. Tidak salah melapis pakaian dengan jaket.

Seperti biasa, Fitra mengenakan bawahan berupa rok panjang, kali ini berwarna hitam. Ditambah sepatu trekking berwarna abu-abu, penampilannya nyaris sama seperti penampilannya ketika mengikuti outbound dulu. Terlihat keren dan gagah, sangat cocok seandainya setelah ini–misalnya–tiba-tiba saja ia berubah pikiran dan memilih bergabung dengan kelompok demonstran (kalau ada) yang longmarch ke depan Gedung Sate sambil membawa bendera Palestina.

“Coba di kantor kamu juga datang sepagi ini, Fit….” Tiba-tiba Christie berkata.

Fitra sontak menoleh. Namun, ia memilih untuk tidak menanggapi.

“Yuk,” ajak Fitra.

Ketiganya kemudian berjalan keluar.

Peugeot 405 berwarna putih tampak terparkir di depan gedung. Fitra menekan kunci remote dan kemudian terdengar detak. Ia kemudian menuju bagasi belakang dan membukanya.

“Ada barang yang mau ditaruh di sini?” Fitra menoleh. Christie sudah berdiri di sampingnya. 

“Ini?” Christie menunjukkan plastik yang ia tenteng.

“Bisa.” Fitra mengangguk. 

Christie lalu menyelipkan plastik berisi pakaian itu ke dalam bagasi. Bagasi mobil sudah sangat penuh. 

“Masih cukup nggak?” Gya tiba-tiba kembali muncul di samping Christie. Kepalanya tampak melongok-longok melihat ke dalam bagasi.

“Kalo nggak muat, taruh di kursi belakang juga nggak apa-apa, Mbak,” tawar Fitra.

“Oke. Aku juga cuma bawa ini, kok.” Gya, sembari menunjukkan tas ransel hitam Bodypack-nya, menjawab singkat, lalu menuju kursi belakang … dan masuk.

Christie melongo melihat Gya. Kalau Gya duduk di belakang, berarti ia harus di depan … di samping Fitra, dong?

Fitra membuka pintu depan dan menyalakan mesin, lalu membuka jendela. Pintu dibiarkan terbuka dan ia masih berdiri. “SOP”-nya setiap kali menyalakan mobil memang begitu.

Christie seperti terpaku menatap Fitra. Jujur, ia masih merasa tidak enak. Ada persoalan di antara mereka yang masih harus diselesaikan.

“Bu Christie?” panggil Fitra.

Lihat selengkapnya