Taman Musik Centrum yang terletak di Jalan Sumbawa ini baru saja diresmikan sekitar seminggu yang lalu. Merupakan bagian dari program revitalisasi taman-taman yang ada di Bandung untuk dimanfaatkan sebagai ruang publik.
Setiap taman memiliki tema berbeda. Dan tema untuk Taman Musik Centrum, seperti nama yang tersemat, adalah musik.
Desain taman ini memang bernuansa musik. Terlihat dari beberapa patung berbentuk instrumen seperti gitar, saksofon, dan lain-lain yang tersebar di setiap sudutnya. Selain itu, taman ini pun memiliki semacam panggung yang dapat dipergunakan untuk menggelar pertunjukan. Mungkin taman ini memang dibuat untuk memuaskan para pecinta musik.
Hanya saja, untuk saat ini, taman digunakan dulu untuk menindak para pelanggar lalu lintas. Setidaknya, di beberapa titik terlihat beberapa polisi tengah melakukan “pembinaan”.
Tampak beberapa orang tengah “berolahraga” dengan diawasi aparat berseragam cokelat: sit up, push up, squat jump, bending. Yang tidak kuat sepertinya memilih opsi cosplay menjadi patung; beberapa tampak tengah berdiri tidak bergerak dengan berbagai pose konyol.
Christie menatap ke arah perginya Fitra dengan perasaan cemas.
“Fitra ke mana, ya?” Christie melongok-longok. Pandangannya menyapu ke arah taman. Matanya berusaha menyisir satu per satu titik-titik tempat orang-orang tengah menjalani hukuman. Jangan-jangan Fitra sedang “dipelonco” juga?
“Entah.” Gya yang juga cemas tampak ikut melongok keluar.
Christie lalu menutup jendela dan mencabut kunci mobil yang sedari tadi masih tercantol di bawah kemudi.
“Gy, titip, ya? Aku mau cari Fitra.” Christie memberikan kunci mobil itu kepada Gya, lalu membuka pintu dan keluar.
“Eh?” Gya kaget. “Tunggu, Chris”.
Gya akhirnya ikut keluar juga. Duh, sampai lupa menutup jendela! Baru ingat kalau jendela belakang masih diputar secara manual menggunakan engkol. Ia pun berbalik untuk menutup jendela, pintu, lalu menekan tombol bergambar gembok pada remote. Kemudian, ia pun melesat mengikuti langkah temannya.
…
Fitra tampak berdiri di salah satu sisi taman. Wajahnya tampak gelisah, sekaligus. pasrah. Sejak digiring keluar dari mobil, Fitra tidak berbicara sama sekali, kecuali jika ditanya. Dan kini, ia tengah berdiri berhadapan dengan polisi yang tadi menilangnya. Kepalanya tampak menunduk, kedua tangannya di belakang, dan ia benar-benar bergeming sejak polisi mulai menginterogasinya.
“Anda tahu, kan, kalau mengenakan sabuk pengaman itu wajib hukumnya dalam undang-undang lalu lintas?” Polisi itu kembali bertanya sambil sesekali melihat STNK dan SIM milik Fitra yang dipegangnya.
“Tahu, Pak,” jawab Fitra singkat, tetap dengan kepala tertunduk.
“Lalu, kenapa sabuk pengamannya tidak dipasang?”
“Rusak, Pak. Kayaknya.” Fitra kembali menjawab singkat.
“Kenapa tidak diperbaiki dulu? Anda tahu, Anda bisa mencelakakan teman Anda?”
Fitra tidak menjawab. Kepalanya tertunduk semakin dalam.
“Habis ini, saya akan ke bengkel, Pak,” jawab Fitra.