Berkendara di pegunungan dengan kondisi jalan yang tidak terlalu mulus memang membutuhkan kewaspadaan tinggi. Makanya, Christie semakin berhati-hati memegang kemudi.
Sejujurnya, ia tegang. Ia jarang berkendara. Bahkan, mengemudikan mobil pun jarang. Paling mengantar anak ke sekolah, itu pun tidak terlalu jauh dari rumah. Ke kantor pun ia lebih suka menggunakan komuter–naik dari Rawabuntu, turun di Sudirman, dan berlanjut dengan bus Transjakarta menuju kantor di kawasan Blok M. Itu sebabnya juga kenapa Christie selalu hadir paling pagi di ruangan. Jadwal kereta membuatnya harus disiplin.
Jalanan tampak menanjak dan berkelok. Kendaraan terus melaju, melewati tebing dan lembah. Beberapa garis kuning polisi terlihat di beberapa sisi. Rupanya ada sisa longsoran. Tidak terlalu besar, tetapi tetap saja bisa membahayakan pengguna jalan.
Christie melirik kaca spion di atasnya. Terlihat Gya yang duduk di belakang tampak mengupas jagung dan mulai makan.
“Enak bener, lo makan sendirian?” Christie menyindir.
“Lapar, Chris.” Gya cuek dan lanjut mengkerikiti biji-biji jagung di tangannya.
“Memangnya aku tidak? Dari tadi pagi, aku baru makan Popmie.” Christie mendengkus.
“Salah sendiri kenapa tadi tidak mau diajak sarapan.” Gya memasukkan lagi bongkol jagung yang sudah habis biji-bijinya ke dalam plastik, lalu mengambil jagung yang lain. Biji-bijinya memang kecil, sih. Makanya cepat habis.
“Mau saya suapin, Bu?” Fitra melirik sambil senyum-senyum dan menyodorkan sebongkol jagung ke hadapannya.
“Ha? Nggak usah. Makasih.” Christie mendelik geli. “Memangnya saya anak kecil?”
“Jangan, Fit. Pejabat nggak boleh terima suap.” Gya terkikik.
Kendaraan masih betah menyusuri jalan berkelok dengan tanjakan dan turunan yang silih berganti. Beberapa kali tampak kendaran yang saling menyusul. Sepertinya mereka memang tidak sabaran. Mungkin juga terburu-buru. Namun, tentu saja Christie tidak sedang terburu-buru. Bahkan, ia sebenarnya sudah malas dengan rapat di Yogyakarta. Kini tujuannya adalah mengantarkan Fitra dan mobilnya ke Yogyakarta dengan selamat.
“Negeri ini kaya, ya?” Fitra tiba-tiba menggumam.
Christie lagi-lagi menoleh–sekilas. “Kenapa, Fit?”
“Tapi, kenapa rakyatnya banyak yang miskin?” Pandangan Fitra menerawang keluar. Tampak pohon-pohon yang seolah berlari ke arah sebaliknya. Ia kemudian menoleh menatap Christie.
“Lihat saja. Tanahnya subur. Panen melimpah. Tapi, kenapa rakyatnya banyak yang miskin?” Fitra mengulangi pertanyaannya, entah ditujukan ke siapa.
Christie tidak menjawab. Sebuah kendaraan yang melintas dari depan lagi-lagi menguji kesabarannya.
TIN!
Christie membunyikan klakson.
“Coba lihat orang-orang yang tadi minta sumbangan. Mereka meminta uang sambil setengah memaksa. Sampai segitunya, ya?”
Air muka Christie kembali berubah.
“Tapi mungkin lingkaran setan juga.” Fitra kembali bergumam. “Daerah ini kaya. Namun, mereka tidak punya kesempatan untuk menikmatinya. Mereka tidak punya akses untuk menjual kekayaan tersebut. Coba pikir, bagaimana mereka mau menjual hasil panen kalau untuk keluar saja harus berkutat dengan jalanan yang bolong-bolong?” Fitra kembali mengoceh.
“Tapi, di sisi lain, bagaimana mau membangun jika mendapatkan pemasukan saja susah?” Fitra menghela napas dan kembali menoleh.
“Makanya butuh orang-orang seperti kita, kan?” sahut Gya. Ia memasukkan sisa bongkol jagungnya yang kedua ke plastik. Masih ada sisa satu buah jagung lagi. Buat nanti sajalah.