Perjalanan Dinas

Nadya Wijanarko
Chapter #38

37 - PURWOKERTO-SOKARAJA-BANYUMAS: Kenyataan

12 Maret 2015


Sudah hampir pukul sepuluh pagi ketika ketiga sekawan PNS itu baru menampakkan diri di lobi hotel. Mereka terlihat santai. Bahkan Christie seperti enggan melanjutkan perjalanan–sikapnya tampak malas-malasan. Toh, ia sudah rapi dengan kemeja putih dan celana hitam yang menjadi pakaian kerjanya. Rencananya, ia memang mau langsung bergabung di rapat begitu sampai Yogyakarta. Sedangkan Fitra dan Gya, terserah nanti mereka mau ke mana.

Berbeda dengan Christie yang rapi, Gya tampak santai dengan hanya mengenakan kaos oblong putih. Sweater abu-abunya tampak disampirkan di pundak. Sedangkan, Fitra mengenakan pakaian yang baru sama sekali, dengan kaos lengan panjang berwarna biru donker dan rok panjang abu-abu. Jilbabnya tetap berwarna biru meski lebih terang dari sebelumnya, menyesuaikan dengan warna kaos.

Gya dan Fitra berjalan menuju mobil sambil membawa beberapa tas yang kemarin ikut diturunkan. Sedangkan Christie menghampiri meja resepsionis di lobi untuk menyelesaikan pembayaran.

Petugas di lobi–pemuda yang kemarin–tampak mengetik sesuatu di komputer.

“PNS, ya, Mbak?” Pemuda itu bertanya.

“Iya,” jawab Christie.

“Mau kuitansi kosong saja?”

Eh, hah? 

Christie terbengong.


Gya berdiri di dekat mobil sambil memandang ke arah utara, tempat di mana Gunung Slamet berdiri dengan gagahnya. Tingginya tampak begitu mengintimidasi, dan membuat siapa pun yang melihatnya merasa kecil. Tampaknya Gya mulai terpukau. Ia pun mengeluarkan ponsel dan mulai memotret pemandangan di depannya. 

Fitra menghampiri Gya sambil menenteng carrier yang ia turunkan semalam karena malas memilih-milih baju di mobil. Ia lalu membuka bagasi dan meletakkan carrier. Namun, ketika akan menutup bagasi, matanya tertumbuk pada sebuah plastik hitam. Milik siapa, ya? Ia melirik ke sebuah bungkusan plastik besar berisi baju bersih yang dilipat rapi di dalam plastik bening di dalamnya lagi. Plastiknya berwarna merah, dan seingatnya plastik-plastik yang digunakan oleh binatu langganannya selalu berwarna merah.

“Plastik ini milik siapa, ya?” Fitra bertanya pada Gya.

“Oh, itu punyaku.” Gya menjawab sekenanya. Ia masih sibuk mencari sudut yang pas untuk mengambil gambar.

“Punya Mbak Gya?” Fitra memastikan.

“Isinya baju kotor.” Gya kembali menjawab sambil memotret. Masih kurang memuaskan, keluhnya dalam hati ketika melihat hasilnya.

“Mbak Gya menaruh pakaian kotor di plastik?” Fitra kembali memastikan.

Gya pun menoleh. Tampak Fitra yang tengah berdiri dengan satu tangan menahan tutup bagasi, dan tangan satunya lagi memegang sesuatu di dalamnya.

“Kamu pikir saya nggak ganti baju?” Gya malah balik bertanya.

Fitra pun tertawa, lalu menutup bagasi. “Habis bajunya kayak itu-itu aja.”

Christie tampak berjalan menghampiri keduanya. Wajahnya tampak ditekuk.

“Segitu jeleknya, ya, imej PNS?” Christie menyandar ke mobil di samping Gya. 

“Kenapa lagi, sih?” tanya Gya. Ini lagi, datang-datang langsung marah.

“Aku tadi ditawari kuitansi kosong.” Christie mendengkus kesal.

Ha? Fitra dan Gya memelotot. Dan sedikit kemudian langsung terdengar suara tawa tertahan.

Lihat selengkapnya