Perjalanan Dinas

Nadya Wijanarko
Chapter #41

40 - JJLS: Razia

Sudah lebih dari setengah jalan–mungkin tiga per empat jalan. Sudah mulai gelap juga. Akan tetapi, mobil masih betah menyusuri jalan dengan suasana khas pesisir ini.

Terbentang jalan dengan dua lajur. Lebih mirip jalan antar desa, dengan pepohonan rindang dan rumah-rumah penduduk di sisi jalan, ketimbang jalan nasional yang menghubungkan antar wilayah. Tampak lahan pertanian dan perkebunan rakyat menghampar luas di sela-sela bangunan rumah.

Christie tampak mengemudi dengan santai. Benar kata Fitra, ini jalur sepi. Hanya sesekali terlihat kendaraan lain, itu pun lebih banyak sepeda motor milik penduduk sekitar.

Christie melirik Fitra yang tengah mengutak-atik ponsel.

“Kirim SMS ke siapa?” tanya Christie.

“Ke Mas Juna. Cuma ngasih tahu kalo saya kemalaman,” jawab Fitra.

“Oh….” Christie melirik kaca spion di atasnya. Tampak Gya tengah tertidur. “Suami kamu asyik, ya?” Christie membuka percakapan basa-basi. Berkendara di jalan yang lurus seperti ini sepanjang puluhan kilometer bisa melenakan. Kalau kesadaran tidak dijaga, bisa-bisa malah mengalami micro-sleeping yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.

“Kenapa?” Fitra bertanya.

“Tidak mengekang.”

Fitra menoleh.

“Saya dari sejak berangkat ke Bandung ditelepon terus sama suami saya. Pas di Cirebon, dia menelepon saya sambil marah-marah. Tapi, saya belum lihat kamu teleponan sama suami kamu.”

“Hubungan kami memang aneh, kok,” jawab Fitra.

“Aneh?”

Fitra mengangguk. “Orang pasti berpikir kalau orang-orang macam saya, dan suami, pasti menjalankan pola rumah tangga yang … yah, gitulah.” Fitra mengangkat bahu. “Stereotyping orang-orang kayak saya. Yang … mungkin orang berpikir kalau saya harusnya di rumah, jadi ibu rumah tangga, mendedikasikan diri untuk keluarga, dan tidak ambisius di karier. Dan sesekali mendampingi suami di acara Dharma Wanita.”

Christie melirik sekilas.

“Tapi … kalo Ibu mau tahu, suami saya itu malah tidak pernah mengizinkan saya sekali pun untuk mengikuti acara Dharma Wanita.”

“Loh?” Christie heran. “Kenapa?”

“Karena, bagi Mas Juna, istri itu partner sejajar. Bukan subordinat.”

Christie kembali menoleh. 

“Ya udah. Bahasa gampangnya gini aja, deh.”

“Gimana?” Christie penasaran.

“Mas Juna itu feminis laki-laki.” Fitra terkikik pelan.

Ha? Christie melongo.

“Gampangnya gitu aja, deh. Saya juga bingung jelasinnya.” Fitra tertawa.

“Tapi yang penting kalian cocok, kan?” Christie tersenyum.

“Setiap rumah tangga, kan, ada dinamikanya tersendiri, Bu. Nggak ada patokan khusus. Dan yang namanya menikah, itu sebenarnya kontrak sosial, antara dua orang, atau lebih.”

Christie lagi-lagi menoleh sekilas, lalu mengernyit.

“Pokoknya ada kesepakatan. Yang mana kesepakatan itu bisa saja suatu saat nanti tidak relevan sehingga solusinya antara dibubarkan atau bikin kesepakatan baru,” jelas Fitra.

“Omonganmu nggak kayak….” Christie menggantung kalimatnya.

“Akhwat?” tebak Fitra.

Christie lagi-lagi tersenyum.

“Saya dulu kuliah di FISIP. Bukan MIPA,” ujar Fitra.

“Iya. Saya tahu. Kamu itu unik, Fit.”

Lihat selengkapnya