Ruang kerja Christie tampak sama berantakannya seperti di luar. Beberapa kardus tergeletak di lantai berisi berkas-berkas yang tadinya disimpan di lemari. Suara-suara masih terdengar dari luar meski pintu ditutup. Namun, Christie tidak berminat untuk bergabung. Hari ini, ia ingin menyendiri. Matanya menyapu ruangan kecilnya dan matanya pun tertumbuk pada sebuah tas di salah satu kardus. Itu adalah tas kamera.
Christie mengambilnya dan mengeluarkan isinya, lalu duduk di atas meja. Kamera di tangannya itu adalah kamera semi otomatis. Bentuknya besar, jauh lebih besar dari kamera poket, tetapi fiturnya tidak selengkap kamera DSLR. Resolusinya pun tinggi. Namun, tetap mudah digunakan oleh amatiran.
Ia kemudian menyalakan kamera dan melihat-lihat isinya. Kapasitas penyimpanannya memang besar. Banyak foto lama masih belum dihapus meski rasanya sudah dipindahkan ke tempat lain.
Christie tersenyum melihat foto-foto itu. Tampak tangkapan-tangkapan gambar berisi para pegawai di Bagian Kepegawaian. Termasuk Fitra. Matanya pun berkaca-kaca. Fitra memang bukan staf terbaiknya. Namun, ia begitu istimewa. Apalagi setelah perjalanan dinas yang lalu, yang menyisakan begitu banyak kenangan.
…
Fitra mengamati kamera di tangannya. Dahinya berkerut. “Ini kamera apaan, sih? Nanggung amat? Mending juga beli yang DSLR sekalian.”
“Memangnya di sini ada yang benar-benar bisa memotret? Kamera DSLR itu untuk profesional. Kalo nggak ada bisa motret, malah jadi mubazir.” Alfi mengeluarkan satu per satu barang dari beberapa kardus. Hari ini, ia memang ditugaskan untuk membeli beberapa inventaris ruangan.
“Lagian juga mau motret apaan? Kegiatan kita nggak jauh-jauh dari rapat.” Alfi mengeluarkan sebuah laptop. “Mas Ari, tolong simpan ini di lemari, ya? Ini nanti yang buat presentasi kalo kita ada rapat.” Alfi menyerahkan laptop itu kepada seorang pramubakti yang tadi ia panggil.
“Oke.” Ari menerima laptop itu dan menyimpannya ke dalam salah satu lemari.
“Kalo gitu, mending beli kamera poket saja.” Fitra kembali berkata sambil mengutak-atik setelan kamera. Beberapa kali ia mencoba membidik pula.
“Resolusinya kurang. Yang ada nanti gambarnya malah pecah,” jelas Alfi lagi.
“Beli yang resolusinya tinggi, dong. Yang lensanya Zeiss atau Leica,” balas Fitra.
“Kalo itu malah nggak masuk SBM. Yang ada malah bisa jadi temuan kalo ada pemeriksaan.” Alfi mulai mendengkus akibat rentetan pertanyaan dari Fitra.
“Bawel amat, sih?” Christie akhirnya tidak tahan juga. Ia mendorong pelan pundak Fitra. “Kalo kamu nggak bisa motret, biar dipegang orang lain saja. Tuh, Ari juga bisa motret.”
Ari yang sedang menyimpan laptop dan barang-barang lain di lemari pun menoleh.
“Saya bisa motret. Makanya ini saya atur setelannya.” Fitra tidak mau kalah. Tangannya tampak lincah mengutak-atik kamera. Lalu….
“Heh!” Christie tampak terkejut. Spontan ia mengangkat lengan untuk menutupi wajahnya. “Apa-apaan kamu? Jangan sembarangan motret orang!” Christie langsung melangkah menjauh.
Fitra malah tertawa-tawa. “Test case dulu, Bu.” Lalu ia kembali membidik Christie.
“Heh! Jangan macam-macam kamu!” Christie melangkah semakin menjauh.
…
Christie terkikik pelan ketika melihat foto wajahnya dengan ekspresi kacau masih tersimpan. Ia kembali menggeser-geser gambar. Dan kali ini wajahnya berubah sendu.
Tampak foto Fitra bersama teman-teman outbond-nya tengah berpose dengan latar belakang bentang alam pegunungan di seputaran gunung Burangrang, Jawa Barat. Itu adalah ketika Fitra mengikuti outbond di tahun 2013 sebelum keberangkatannya ke Bandung. Waktu itu, beberapa kru kepegawaian melakukan tinjauan lapangan untuk mengecek kondisi para peserta. Christie sendiri waktu itu tidak ikut karena ada kegiatan lain. Entah siapa yang mengambil gambar itu.
“Pak Dirjen tidak ingin kegiatan outbond yang seperti sebelumnya. Beliau ingin kegiatan yang benar-benar bisa menggembleng mental khususnya para pegawai muda. Apalagi, banyak pegawai muda yang seenaknya. Memang, sih, pegawai muda sekarang pintar-pintar. Tapi tanpa diimbangi dengan karakter, semuanya percuma.”
Christie ingat dengan kata-kata Bu Ning saat itu ketika rapat internal. Christie juga ingat dengan Fitra yang saat itu langsung menunduk. Dan Christie benar-benar tidak menyangka ketika seminggu kemudian Fitra menghadapnya untuk meminta diikutsertakan ke dalam kegiatan itu.
“Kalau bisa … nama saya dimasukkan saja, Bu.” Begitu kata Fitra waktu itu.
“Kenapa?” Christie bertanya balik. Padahal, dalam hati ia bersorak kegirangan. Karena, tadinya ia mengira bakal beradu argumen untuk memasukkan namanya.
“Karena … saya, kan, tahun ini akan tugas belajar. Takutnya, kalau nama saya nggak dimasukkan di batch pertama, nanti saya malah keburu nggak di kantor,” lanjut Fitra.
“Saya kira kamu mau menghindar?” Christie menyindir.
“Hah?” Fitra terkejut, lalu buru-buru menggeleng. “Nggak, Bu. Saya nggak akan menghindar. Saya akan menghadapinya, apapun itu.”